-->


Beginilah Cara Kota Ruteng Menghibur Dirinya Sendiri

Foto suasana festival kuliner kota Ruteng pada Kamis, 13 Oktober 2022

Melawan Dinginnya kota Ruteng

Imajinasi.pikiRindu- Ruteng termasuk salah satu kota yang paling dingin di Indonesia. Jalan-jalan di malam hari menjadi perjalanan yang sulit bagi penduduknya.

Malam hari menjadi saat yang paling dingin di kota Ruteng. Biasanya saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, dingin pun mulai membungkus kotanya.

Masyarakatnya kemudian bersembunyi di dalam rumah dan mendekat ke perapian sehingga dingin itu bisa ditepis.

Jalanan di kota seakan tidak memiliki tuannya. Sepi. Hanya ada beberapa saja kendaraan yang melintas, mungkin karena terpaksa mereka melintasi jalan-jalan sepi itu.

Butuh mental melawan dinginnya kota. Walaupun ada banyak bintang di langit kota, itu tak cukup menghangatkan badan yang sudah dilapisi jeket berbulu coklat tebal.

Namun, beberapa hari ini, kota Ruteng menjadi kota yang berbeda. Banyak orang berkumpul di pusat kota, tepatnya di lapangan Motang Rua. Mereka berkumpul, duduk, di atas kursi-kursi yang berjejeran. 


Di tangan mereka sambil memegang secangkir kopi dan ada juga yang sedang mencicipi jajanan yang tampaknya lezat jika dicicipi.

Ada juga yang duduk melingkar di bawah tenda kecil sambil bergurau dan bercanda. Tampaknya mereka bahagia sekali. 

Apa yang membuat mereka berkumpul? 

Rasa penasaran pun muncul dan tiba-tiba, spontan keluar dari mulut pertanyaan "apa yang membuat orang-orang ini berkumpul di sini? Lalu, seorang bapa paruh baya juga spontan menjawab "ada festival kuliner". 

Baca Juga:. Pikiran Terjebak di Rumah Wunut Saat Pulang

Wah, pantasan saja banyak orang yang lagi berkumpul sambil mulutnya mengunyah berbagai makanan dengan begitu nikmatnya.

Semakin jauh kaki melangkah, semakin nampak bahwa memang benar ada festival kuliner. Ada banyak stan milik UMKM yang menempati deretan stan yang telah disiapkan.

Air liur semakin banyak tertahan di mulut karena ingin segera merasakan berbagai makanan milik pelaku UMKM itu.

Baca Juga: Jelang Natal 2021, Alasan Maria Kunjungi Elisabet Barulah Terkuak

Namun, kami harus tertahan sejenak di arena permainan anak-anak yang berisi permainan odong-odong. Hal itu karena si nona kecil ingin sekali naik odong-odong sambil mendengarkan lagu anak, balonku ada lima.

Sekitar 10 menit kami di tempat permainan anak-anak, saking lamanya menunggu, perut pun memberikan isyarat bahwa dia harus segera diisi. Kami pun melangkahkan kaki, sambil melihat berbagai usaha kuliner UMKM itu. 

Oh iya, tidak hanya ada UMKM kuliner, ada juga deretan usaha yang menjual mainan anak-anak. Di situlah kami berhenti sejenak dan membelikan mainan untuk si nona kecil. 

Baca Juga: Budak Paruh Waktu Di Tanah Pilihan

Dia bahagia sekali mendapatkan mainan yang sama seperti yang ada dalam video anak yang sering ditontonnya.

Setelah membeli mainan, kami melangkahkan kaki dan melihat ternyata ada juga UMKM yang menjual berbagai pakaian, sepatu, sendal, perhiasan, dan masih banyak lagi.

Terlintas dalam pikiran, "wah UMKM di kota Ruteng ternyata bertumbuh cepat. Buktinya para pelaku UMKM itu kebanyakan anak muda dan ada juga yang baru menyelesaikan pendidikan tinggi. Salut buat para pelaku UMKM yang kreatif ini."

Kami berhenti di suatu stan bakso untuk mengisi perut yang terus berbunyi dari tadi. Kami pun sama seperti yang lain, kemudian duduk dan mencicipi bakso untuk mengobati rasa lapar sekaligus menghangatkan tubuh yang terasa dingin.

Baksonya enak sekali, teman-teman juga wajib merasakannya. Selain bakso, ada juga yang menjual berbagai macam kue. Oh iya, untuk stan kue biasanya rame diburu pembeli sehingga kita harus antri untuk mendapatkan pesanan.

Baca Juga: Bahagia Setelah Sakitnya Luka

Setelah mencicipi bakso, kami pun berjalan lagi dan melihat berbagai macam kuliner lainnya. Berhenti, lalu membeli bakso dan sosis bakar. 

Berjalan lagi dan menemukan ada juga yang menjual kebab, itu membuat rasa bergejolak hendak memakannya. Ah, nanti datang lagi saja biar bisa mencicipi semua makanan yang ada di setiap stan kuliner ini. 

Maklum, duit yang ada tak cukup mampu membeli semuanya. Lain kali, harus menyiapkan duit yang cukup agar bisa menikmati berbagai kuliner malam ini.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 Wita, kami memutuskan untuk kembali ke rumah karena alam semakin dingin.

Dalam perjalanan pulang, mata si nona kecil tertuju pada sebuah stan, di mana di situ ada beberapa anak yang lagi belajar menggambar. Si nona kecil sangat ingin singgah dan coba menggambar.

Kami pun singgah, si kecil kemudian memainkan kuas, mewarnai gambar kupu-kupu. Hampir sejam kami di situ karena menemani si nona kecil mewarnai. Dia bahagia sekali memainkan kuas itu dan tampak sekali keceriaan memenuhi parasnya yang cantik. 

Bahagia sekali rasanya, melihat si nona kecil bergembira. Yah, walaupun jeket coklat tebalnya dipenuhi warna dari percikan kuas di tangannya.

Setelah mewarnai gambar, kami lalu pulang, menikmati angin dingin di atas motor yang sedang melaju menuju rumah. 

Sampai di rumah, kami bercerita kembali tentang apa saja yang menyentuh di festival kuliner malam ini. 

Baca Juga: Nilai Yang Pudar Dari Kota Kecil Ruteng

Tidak sia-sia kami memberanikan diri melawan dinginnya kota Ruteng malam ini. Kuliner yang ada sungguh membuat kami ketagihan untuk merasakan kembali di lain waktu.

Bagi pembaca yang belum sempat menikmati kuliner malam di Motang Rua, buruan merapat karena ada juga hiburan-hiburan lain yang menarik. 

Jangan lupa untuk menikmati hiburan sambil meminum secangkir kopi dan mencicipi beberapa jajanan kue. 

Usahakan teman-teman membawa uang yang cukup karena ada banyak hal yang bisa saja membuat anda akan mengeluarkan uang. 

Salam dari kota Ruteng, kota penuh kenangan. Mari bersama, kita dukung UMKM di wilayah kita.


Penulis: Ricardus Jundu

Penulis merupakan orang yang suka jalan-jalan di pedalaman Flores - NTT. Penulis juga penyuka karya sastra dan seni, pegiat usaha mikro yang bergerak di ekonomi kreatif-bisnis digital dengan nama usahanya Flores Corner (naiqu, cemilan santuy, dan JND desain), serta pengajar di Unika Santu Paulus Ruteng. Hasil tulisan penulis sudah banyak dipublikasikan di berbagai media cetak dan online. 

Editor: Florida Nuryati Kabut

@Red.pikiRindu

Mengapa Aku Harus Merasa Sakit Kehilangan?

Cinta
Ilustrasi: pixabay.com

Karena Cinta Kasih Adalah Abadi

Malam dingin itu terasa tak berarti ketika jiwa berada dalam sudut api yang membara. Aku seakan lupa bahwa aku masih memiliki yang lain dalam kesunyian malam itu.

Sekarang aku sadar bahwa semuanya telah terbang jauh menuju awan yang mendekati cahaya terang benderang. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan bahwa belum hilang semuanya, masih ada sisa kehangatan kisah lama yang hanya butuh ingatan untuk mengembalikan semuanya. 

Tanpa ada dokumentasi. Tersisa hanya foto lama yang buram. 

Jika aku rindu maka aku hanya perlu mengingat kembali semua tentang cahaya kasih dibalik memoriku. Sampai sekarang aku bisa merasa dekat karena pancaran cahaya datang tiap kali aku membutuhkan kehangatan jiwa. 

Hitam kelamnya rasa jiwaku terbakar dan membuatku tenang kembali. Aku tahu cahaya itu memang jauh dari genggamanku tetapi pancaran cahayanya selalu mendekati aku kemana pun aku pergi.

Semuanya dimulai dari malam itu, kehidupanku berubah drastis seakan aku bukanlah aku yang sebenarnya. Kepergiannya berubah menjadi api dalam hidupku seakan membakar hidupku. Apa gunanya aku hidup sekarang? 

Siapa yang menghantar aku ke peraduan dunia nyata kelak? Hampa sungguh hampa hidupku saat itu. Teriakku saat itu tak dihiraukanya dan dia tetap pergi entah ke mana. Dalam benakku aku merasa hancur, biarkan dinginya malam itu jadi saksi bahwa seungguhnya aku membutuhkanya. 

Seandainya saat itu aku telah dewasa, tak akan ku biarkan smuanya berlalu begitu cepat. Yang Maha Kuasa berkehendak lain, ada rahasiaNYA tak terurai dalam asa pikiranku. Itulah teka-teki hidupku yang aku harus pecahkan selama sisa hidupku nanti.

Waktu terus berlalu dan hari ini aku memulai memecahkan rahasia hidupku. Gerak jiwaku dalam tubuh tidak bermaksud memberontak dari kenyataan. Aku hanya tak mau hidupku seakan tak berarti tanpa kisah rahasia ESA yang berdrama dalam hidupku. 

Akulah sang rahasia itu, namun aku tak tahu kisah yang selanjutnya terjadi dibalik rahasia itu. Satu per satu aku akan memulai untuk pecahkan kisah teka-teki itu, melalui benak kalbu hatiku tanpa pengaruh yang lain. Bersaksi tentang hati dan pikiran yang selalu merobek sukma jiwaku akan ku ukir satu per satu. 

Biarlah kisah ini, aku mulai lewat sejarah dinginya malam itu dalam kehangatan terakhir bersama dia yang melindungiku. Aku akan memulai hidupku tanpanya, aku seakan tak berdaya menahan tangis kecilku. Aku terluka dengan kepergianya. Biarkan dia tahu isi hatiku. 

Itulah mengapa aku memulai menguak rahasia ini dari dalam diriku sendiri.

Sampai hari ini, satu per satu rahasia itu terungkap. Dia melindungiku. Aku merasa tak sendiri dalam setiap perjalanan hidup. Halangan dan tantangan selalu dilalui dengan bantuannya.

Doanya tetap menyertaiku. Doanya membuatku menjadi pribadi yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan dalam hidupku. Doanya menguatkanku dalam menghadapi persoalan hidup terberat.

Aku tahu bahwa aku tak bisa melihatnya lagi secara nyata. Aku hanya bisa merasakan kehadirannya. Semuanya karena ikatan emosional yang kuat antara dia dan aku.

Ke depannya, aku tak pernah takut menghadapi berbagai persoalan dalam hidup karena keyakinanku tentang dia yang selalu berdoa dan menjadi pelindungku. 

Dia tak pernah meninggalkan aku sendiri dalam suka dan duka. Dia sungguh membuatku tegar, kuat, dan berani menjalani hidup. Hanya raga yang terpisah tetapi tidak dengan cinta karena cinta kasihnya sungguh ABADI.


Ricard Jundu

Penulis adalah penyuka karya sastra dan seni yang sudah menulis di berbagai media cetak dan online


Mencari Kata Yang Hilang || Ricard Jundu

Puzzle
Ilustrasi menemukan sesuatu yang tepat (sumber: pixabay.com)

Di saat ini aku tak henti-hentinya mengeluh dan berjuang. Keberadaanku seakan tak berdaya menempuh hidup yang kian surut mengering hingga gersang. Sudah lama kering tak berdaya, aku tahu segala kesalahan akan menunda rejeki yang siap datang kepada kehidupanku ini.

Dimana keadilan hidup yang sesungguhnya? 

Aku hanya memiliki perasaan yang tidak bisa melihat keadilan, walau itu sebenarnya nampak jelas dalam kehidupan. Aku membutuhkan kaca mata keadilan untuk bisa melihat keadilan itu sendiri. 

Melangkah butuh persiapan yang sangat matang sehingga kepastian dapat diraih dengan pasti. Siapa pemilik keadilan itu? sehingga aku harus memintanya. Aku selalu mencari arti hidupku sendiri dengan melihat keadilan.

Perjalananku masih panjang dalam menghadapi segala tantangan hidup. Dalam kehampaan aku berpikir bahwa ada sesuatu yang hilang dari setiap aktivitas yang dilakukan. 

Mengapa? Aku hanya berorientasi pada satu arah dan melupakan arah yang lain. Aku terkejut saat dikejutkan oleh sesuatu gertakan yang membutuhkan tanggapanku. Diam sebenarnya bukan jawaban, seharusnya aku mengatakan sesuatu, apa pun itu walau tak bermakna.

Jangan memaksa aku untuk menjawab karena itu membuatku gelisah dan gerogi. Aku jadi tak bisa berpikir. Mungkin, biarkan aku hening sejenak untuk memanggil kembali sesuatu yang hilang dari dalam pikiran. 

Berikan aku waktu sejenak karena tidak mudah mencari sesuatu yang hilang agar aku dapat  tanggapi keinginanmu. 

Aku selalu berpikir bagaimana caraku menemukan kata yang hilang itu. Sebenarnya, aku membutuhkan waktu untuk mengingat kembali kata yang hilang itu. 

Baiklah, aku akan mencari waktu yang tepat untuk  menemukan kata yang hilang itu. Waktu di mana aku bisa tenang. Kesempatan yang tepat untuk merenung.

Ketenangan akan membuatku mampu menemukan kata yang hilang itu. Aku sadar bahwa hal itu tidaklah mudah. 

Butuh perjuangan yang panjang dan melelahkan. Sekarang yang aku butuhkan hanyalah fokus pada tujuan.

Fokus membuatku semakin terarah. 

Itu tepat sekali, maka mulailah fokus dan pada akhirnya dititik kejenuhan masa pencarian kata yang hilang itu, aku terinspirasi untuk terus bergerak maju. Dalam perjalanan hidup, aku pun menemukan kata yang hilang itu.

Kata yang hilang itu adalah kesabaran. Ya, kesabaran memang tepat untuk kehidupanku saat ini.


Penulis adalah penyuka karya sastra dan seni yang sudah menulis di berbagai media cetak dan online


Melawan Gelisah

Sumber foto: mainmain.id

Ada yang berdetak begitu hebat, jantungku. Nadi melekat begitu erat dengan aliran darah kencang. Katanya, aku harus kuat dengan segala yang akan aku hadapi. Takutku melekat erat, sementara bersembunyi dibalik pintu hati. Pikiranku menjadi tempat persembunyian kegelisahan untuk meluapkan rasa takut ini.

Ingin ku berlari ke hutan, agar tak ada yang tahu. Kini, Aku sebatang kara, sendiri, dan bersembunyi. Namun, pelita yang sudah ku nyalakan di belakangku harus tetap hidup, tak boleh redup. Aku bukan pengecut, berlari ke hutan tanpa alasan. Aku hanya ingin kesunyian sebentar saja untuk merenung dan mengembalikan pikiran dari kegelisahan.

Hey, dalam diam ada ketenangan, sesekali angin spoi merabah tubuhku dan aku mendesah. Perlahan gelisah itu pergi, hilang entah kemana. Mata ini pun terbuka, kemudian melihat ada jalan yang harus dilalui. Dengan ringan kaki ini melangkah menelusuri jalan itu. Ada suara hati yang sedang melawan kegelisahan dan membunuh rasa takut.

"Hatiku bergumam: Aku harus menang"

Sejenak denyutan jantung berhenti, aku berpikir hati ini kalah melawan kegelisahan yang mendera ruang hati. Tak ada lagi dentuman perang, hanya ada ketenangan. Udara pertama yang aku hirup setelah sejenak tak ada denyut jantung seolah membakar kembali mesin jantungku. Lalu, mesin itu hidup dan kembali berdenyut seperti biasanya. Ruang hati pun kembali hangat.

By Ricard Jundu

Budak Paruh Waktu Di Tanah Pilihan

Pekerja


Cerita gila pertama yang ditulis sebagai imajinasi dalam refleksi penulis. 

Regulasi dan regulasi lagi, teriakmu. Jangan sok tahu kamu dengan regulasi. Kamu tak paham sedikit pun. Kewajiban kamu hanyalah bekerja sesuai keinginanku. Paham?

Regulasi itu punyaku dan untuk kepentinganku. Bagaimana kamu bisa paham, toh kamu bukan pembuatnya, apalagi kalau ditambah otakmu yang lemah lunglai. Aduh, sulitlah kamu pahami isi dari regulasi yang panjang lebar itu.

Sekalipun kamu merengek, tak bisa memberontak, kamu hanyalah rakyat jelata yang meratap dalam puisi. Teriakmu hanya membuat kamu tambah frustrasi. Ingat, akulah yang memutuskan, bukan suara teriak ramaimu.

Kalian hanyalah sekumpulan budak yang aku gunakan untuk kepentinganku dan sekaligus kroni-kroniku. Mau sampai kapanpun kamu tetaplah budak. 

Jika aku tak membutuhkanmu lagi, tentunya kubuang sampai kamu tak bisa menjerit lagi. 

Sebenarnya, aku ingin sekali mempertahankanmu menjadi budak-budakku tapi karena demi menjaga kepentinganku terpaksa kalian kutendang.

Kehidupanmu, bukan urusanku. Urusanku adalah perut dan semua keinginan kroni - kroniku. Mungkin, itu akan berlangsung paling lama sampai aku tinggal di liang kubur yang sempit itu.

Janganlah kamu merengek seperti kambing kelaparan saja. Apalagi kalian lakukan itu di jalanan yang tak punya naungan untuk terhindar dari teriknya panas matahari. Aku tahu itu dari balik jendela megah di ruangan kerjaku. 

Sepintas aku melihat sambil tersenyum dan bergumam dalam hati "makanya ikut aturan main". Resikonya tanggung sendiri karena itu bukan urusanku. 

Bagiku, keberadaanmu saat ini tak menguntungkan aku dan kawan-kawanku. Kawan yang entah setia atau tidak kepadaku. Intinya, sekarang kawan-kawan itu masih terlihat lengket di depanku.

Oh iya, kata kawanku, ada di antara kalian yang menjadi budak kurang lebih mendekati 10 tahun. Aku hanya mau bilang, sedih sekali nasibmu.

Kalau boleh jujur, ingin sekali kupertahankan kalian menjadi budak di tanah pilihanku tetapi aku didesak oleh kepentinganku agar melepaskan kalian. Kalian hanya menjadi beban di tanah ini.

Pekerjaanmu selama ini hanya sebagai pengorbanan dari budak kepada tuannya. Dari jaman dulu juga begitu sehingga sebaiknya kalian terima saja.

Teriakmu tentang hak dan jaminan kepadaku tak ada gunanya. Hatiku sudah terikat janji dengan kepentinganku. Teriakmu soal karma dan kutukan pedas, kamu bukan Tuhan yang bisa menghakimiku sesukamu.

Saat ini, akulah yang berkuasa atas tanah ini. Jadi, aku bebas melakukan apa pun atas tanah pilihan ini. Memang benar bahwa ada kawan lamaku yang kini harus tinggal di balik sempitnya jeruji besi di masa tua karena seenaknya mengatur tanah ini.

Itu kan kawan lamaku dan bukan aku. Salahnya sendiri karena tidak bisa merencanakan dengan baik dan mensiasati banyak strategi agar tak ketahuan kalau telah mencuri harta dari tanah pilihan ini.

Kalau aku sendiri banyak belajar dari kesalahan kawan lamaku itu agar tak terulang dan terjadi kepadaku.

Budak, cukuplah kau berteriak lagi di jalanan depan kantor kerjaku. Kau hanya membuang waktu, carilah pekerjaan baru. Syukur kalau mendapatkan pekerjaan yang lebih layak bagimu.

Burung di udara saja bisa hidup. Apalagi kalian yang punya kaki dan tangan. Yah, sekalipun menjadi budak lagi. Saranku, sebaiknya kau gunakan juga otakmu maka kaki dan tanganmu tidak menyeretmu menjadi budak yang sama lagi.

Sembari menikmati secangkir kopi di ruang kerjaku, sempat mendengar kalian meneriaki namaku. Aku sudah terbiasa dengan candaan seperti itu. Aku hanya kasian saja apabila kalian kecapean nanti, lalu pulang tanpa membawa hasil untuk sekedar membeli beras dan teman-temannya.

Keputusan yang kuambil tidak bisa diganggu gugat lagi. Setop teriak di jalanan dan sebaiknya move on, lalu berpikir untuk mencari peluang baru yang lebih menjanjikan.

Begini saja yah, kalian kusiapkan balai pelatihan kerja untuk menambah keterampilan kalian. Prinsipnya, aku memberi jala ke kalian dan pergilah menangkap ikan. Aku tidak akan memberi ikan secara langsung karena takut cepat habis begitu saja, lalu kalian merengek lagi. 

Bagaimana, mau saya bagikan jala itu? Jala itu akan membantu kalian mendapatkan ikan lagi apabila sudah habis terpakai.

Soal regulasi dan kebijakan yang aku putuskan, kalian terima saja, jangan ribut berlebihan. Aku juga butuh jala untuk menghidupi kroni-kroniku yang juga lebih banyak merengek kepadaku lebih dari yang kalian lakukan ini.

Sekian tahun berlalu pergi, semua cerita itu, kini menjadi kenangan masa laluku. Semuanya menjadi beban yang selalu mengusik bahagiaku. Dulu, ada yang terluka karena keputusanku. Semoga semua yang terluka itu, kini berbahagia menjalani hidup.

Aku hanya bisa merenung dan meratapi hidup hanya dari kursi roda ini. Aku tak berdaya lagi. Rambutku beruban dan terus menua. Ingin aku kembali ke masa lalu dan memulai dari awal lagi. Semuanya hanya bisa kuungkap dalam hati tanpa henti.

Aku hanyalah sampah masa lalu bagi orang-orang yang tersakiti. Dari sini, di ruang sempit ini, semuanya berakhir, lalu menjadi kenangan.


Ricard Jundu

Penulis adalah penyuka seni dan sastra yang sudah menulis di berbagai media cetak dan online.


Sumber ilustrasi: pixabay.com

Bahagia Setelah Sakitnya Luka || Ricard Jundu

Mimpi yg dirindukan
Ilustrasi orang yang saling melepas rindu

Imajinasi.pikiRindu- Hari ini memang pedih bagi sang perinduku. Bukannya aku buta 'tuk melihat, aku hanya membutuhkan kaca mata hidup 'tuk mampu memandang bahwa aku dibutuhkan sang perinduku. Dalam penaknya hariku ini, ragaku seakan hilang dicuri oleh besarnya kerinduan sang perinduku.

Janganlah biarkan air mata mengalahkan kerinduan karena masih banyak duri yang perlu dicabut satu per satu dari kehidupan untuk bisa merasakan indahnya hidup setelah merasakan sakitnya luka. Sang perindu mungkin banyak hal yang tak kau ketahui tentang ku. 

Aku berusaha akan membantu menjelaskannya. Jika saatnya tiba aku tak mau lagi melihat kerinduan itu hilang tak tentu arah. Aku hanya mau merasakan kerinduan itu nyata dalam rasa dan lambat laun hilang terbakar cinta yang utuh. 

Lembutnya angin malam ini sungguh membuatku semakin terbang jauh dalam rasa hangat yang dibagikan sang perinduku dari jauh. Haruskah aku menderita karena langit itu masih jauh? Aku hanya mau katakan dengan tegas bahwa aku tidak takut dengan luka. 

Ingatlah bahwa saat langit itu digenggamanku, aku hanya menginginkan sang perinduku meniupkan lilin suka cita untukku. 

Di kedalaman hati yang lembut selalu ada nada damai ketika tawamu melantunkan bunyian yang indah dengan raut wajah tersenyum. Aku mungkin yang pertama mengatakan bahwa mungkin kamulah sang perindu yang berbahagia itu. 

Banyak hal yang sungguh membuatku makin penasaran, entah dengan hidupku sendiri karena sang peinduku itu selalu memiliki teka-teki baru dalam napas kehidupan ku. Haruskah aku menjawab teka-tekinya? bagaimana caranya? 

Ah..... aku ini mungkin terlalu jauh melihat ke depan. Sebenarnya sang perinduku itu mampu  menjawab sendiri teka-teki karyanya dengan rasa dalam perasaan yang halus dan lembut. Mungkin karena aku terlalu ragu sehingga harus mencoba memecahkan teka teki itu sendiri.

Lantunan syair dalam nada doanya di keheningan malam sangat mampu memecahkan kesunyian malam. Syair yang diungkap dengan perasaan yang tulus kemudian mengobati luka yang terkadang menusuk dan menyakiti.

Selalu, ketika senja mulai menunjukkan biasnya, saat itu selalu ada rindu untuk mencapai angan dalam setiap luka yang didapat.

Hanya malam yang mengobati luka dalam harap di tengah kesunyian itu. Malam mengobatinya tanpa sentuhan tapi melalui gelap dan indahnya bintang-bintang. Malam dan bintang pasti punya alasan mengobati luka goresan kata yang terasa pedis.

Kata dari mulut yang tak bertulang tapi memiliki energi yang berbisa.

Hanya malam dan bintang yang mengobati luka, sehingga pagi berikutnya kembali meluluhkan perinduku agar tersenyum kembali. Senyuman yang bisa menyembunyikan betapa perihnya luka sang perindu.

Dalam senyuman itu, ada keyakinan yang kuat bahwa mimpi saat malam dan penuh bintang pasti akan tercapai. Keyakinan membuat kekuatan kembali hadir dalam jiwa perindu karena yakin menjadi kunci pembuka ruang kebahagiaan yang dinanti.

Hari demi hari berlalu ditemani malam dan bintang, sampai pada suatu ketika di mana mimpi yang dinanti hendak tercapai. Raut wajah perindu pun makin memancarkan cahya terang hendak menunjukkan ada jiwa yang lagi berbahagia.

Kata yang terucap pun selalu dengan nada manja dan aura cinta yang meluap-luap karena rindu yang tak terbendung lagi. Hingga tiba saatnya, hari di mana mimpi itu menjadi kenyataan, sang perindu lalu menangis dan tak henti menangis. Bukan tangisan luka. Tangisan bahagia.

Luapan bahagia yang tak terbendung itu pun dirasakan oleh malam dan bintang. Aura saat itu, seakan malam dan bintang seolah menunjukkan rasa bahagia juga. Sembari merasa bahagia tetap harus sisihkan waktu untuk hari dan malam berikutnya.

Perindu pun berakhir suka cita setelah merasakan sakitnya luka.


Penulis merupakan penyuka karya sastra dan seni yang telah menulis diberbagai media cetak dan online.

@Red.pikiRindu


Jelang Natal 2021, Alasan Maria Kunjungi Elisabet Barulah Terkuak

Gambar: depositphotos.com

Penulis: Ricardus Jundu, Editor: Florida N. Kabut

Imajinasi.pikirindu - Beberapa hari yang lalu, diberikan kesempatan untuk mengunjungi salah satu desa. Perjalanannya cukup menantang karena banyak jalan yang berlubang dan melewati bukit - bukit curam. 

Terlepas dari jalanan yang memacu adrenalin, semuanya terobati dengan pemandangan alam yang indah sebagai anugrah dari Tuhan.

Sesampainya di kantor desa, sudah banyak masyarakat berkumpul menantikan kehadiran kami. 

Sembari menunggu kami, mereka duduk berkelompok di bawah rindangnya pepohonan untuk menghindari teriknya mentari saat itu. Ada yang berdiri dan ada juga yang duduk.

Entah apa yang mereka bicarakan dalam kelompok-kelompok kecil itu, hanya mereka sendiri yang tahu. 

Setelah kami sampai, semua masyarakat beramai-ramai memasuki kantor desa untuk menempati kursi yang sudah disiapkan. 

Kami berdiri sejenak di depan kantor desa, lalu disambut secara adat Manggarai yaitu tiba meka menggunakan tuak dan sebungkus rokok. 

Kami tersenyum bahagia karena tak disangka akan disambut demikian. 

Kata kepala desa kepada kami, acara ini adalah kebudayaan orang Manggarai dalam menyambut tamu. Dalam hati kecil saya, luar biasa warisan leluhur orang Manggarai ini. 

Salah seorang dari kami, langsung spontan merespon, kebiasaan ini sangat menyentuh, saya merasa sudah diterima menjadi orang Manggarai, katanya dengan nada halus dan tersenyum bahagia.

Oh iya, setelah acara tiba meka, kami masuk ke dalam ruangan dan diterima dengan tarian tiba meka yang dibawakan oleh pelajar. 

Lenggak-lenggok penari membuat kami terpukau dan semakin kagum dengan kebudayaan orang Manggarai. 

Seorang teman kami mengatakan "kayaknya masih banyak hal yang kita bisa temukan dari kebudayaan orang Manggarai ini", katanya dengan nada halus dan volume yang tak begitu besar.

Ternyata, kepala desa mendengar apa yang disampaikan salah satu teman kami tadi. Sambung kepala desa, di Manggarai ada yang namanya tarian caci sebagai ciri khas orang Manggarai. 

Kami pun penasaran dengan tarian caci dan menanyakan seperti apa tarian caci itu. Sontak kepala desa menunjukkan video yang direkamnya saat caci pada acara wagal anaknya. 

Ini waktu acara wagal anak saya, kata kepala desa. Wagal?  iya, wagal, tegas kepala desa.

Kami pun semakin penasaran dengan kebudayaan orang Manggarai, tentunya. Wagal, ternyata salah satu acara adat dalam perkawinan orang Manggarai. 

Katanya, dengan dilakukan acara adat itu, sang gadis resmi masuk dalam keluarga pria. Acara wagal sekarang ini sudah banyak perubahan dan tidak sama seperti dulu di jamannya, tegas kepala desa.

Sambil bercerita, kami disuguhi kopi dan teman-temannya seperti ubi, pisang, dan jagung rebus. 

Kepala desa mengatakan bahwa inilah hasil pertanian kami, mohon maaf jika kami hanya bisa menyuguhkan makanan seperti ini. 

Kami senang pak, sebenarnya makanan seperti ini yang kami inginkan karena sudah sering dengan berbagai jenis kue di kota, jawab salah seorang teman. 

Setelah hampir 30 menit kami beristirahat sambil bercerita dan menikmati suguhan dari desa. Kami pun memulai kegiatan kami untuk memberdayakan masyarakat desa. 

Salah satu yang kami berdayakan adalah hasil pertanian seperti jagung, pisang, dan umbi-umbian.

Salah satu teman kami menjelaskan begini, "kita terkadang aneh. Kita pergi jual pisang ke kota dan kembali ke kampung membawa pisang goreng sebagai buah tangan ketika pulang dari kota untuk dinikmati bersama keluarga di kampung". 

Sontak semua masyarakat desa yang hadir tertawa terbahak-bahak.

Hampir tiga jam kami membagikan keterampilan yang kami miliki kepada masyarakat desa. Semoga dengan kegiatan pemberdayaan ini, masyarakat bisa memiliki pengalaman yang baru lagi. 

Waktu menunjukkan pukul 13.00 wita, sungguh tak terasa berlalu begitu cepat. Kemudian, kami menyampaikan akan hadir lagi dua minggu lagi untuk melihat perkembangan desa. 

Kegiatan pemberdayaan desa pun selesai dan kami diundang untuk makan di rumah kepala desa.

Sesampainya di rumah kepala desa, betapa kagetnya kami melihat dua orang wanita saling berpelukan sambil menangis histeris. 

Bukan hanya kami yang kaget melihat peristiwa itu tetapi kepala desa dan beberapa tokoh masyarakat yang ikut bersama kami.

Tiba-tiba air mata kepala desa juga jatuh membasahi wajahnya yang nampak kelelahan. Kami pun hanya bisa diam dan bertanya dalam hati "ada apa sih?" 

Salah satu tokoh masyarakat akhirnya mempersilahkan kami duduk, sekalipun itu bukan rumahnya tetapi karena takut kami berdiri terlalu lama.

Kepala desa hanya bisa menangis dan matanya terus menatap kedua wanita yang menangis sambil berpelukan itu. 

Tak lama kemudian, keluar kalimat dari salah seorang wanita yang mengenakan pakaian yang rapih dengan dandanan yang telah pudar akibat air mata yang menetes, katanya, ampong koe aku e kaka, salah aku ta kaka. Ampong kole aku e ase momang daku, salah kole aku, jawab wanita lainnya.

Baca Juga:

Pikiran Terjebak Di Rumah Wunut

Kami dalam diam, hanya bisa merasakan emosi dari kedua wanita yang nampaknya sama-sama lagi hamil. 

Beberapa menit kemudian, keduanya saling mencium pipi kiri dan kanan lalu duduk di sebuah tikar sambil tetap berpelukan. 

Kepala desa lalu menghapus air matanya dan sembari menyampaikan permintaan maaf kepada kami. 

Dia kemudian menjelaskan bahwa kedua wanita itu adalah saudara kandung yang mengalami perselisihan sejak pemilihan kepala desa periode lalu. 

Perbedaan itu membuat hubungan keduannya berantakan. Betapa bahagiaanya natal kali ini, kembali mempertemukan dan menyatukan ikatan batin kedua saudara ini. 

Saya menangis karena bahagia dan saya sudah melupakan semua masalah saat itu dan menunggu sejak lama kesempatan hari ini, terima kasih Tuhan, kata kepala desa dengan nada halus dengan wajah kembali bersinar.

Beberapa tokoh masyarakat pun memuji apa yang dilakukan kedua saudara itu. Mereka mengatakan bahwa kami baru tahu kenapa sampai mereka ini berpisah dan tak pernah saling mengunjungi satu sama lain lagi. 

Ternyata hanya karena masalah perbedaan pilihan dalam pesta pemilihan kepala desa kali lalu.

Kami sebagai tamu hanya diam dan tersenyum serta ikut mensyukuri peristiwa itu. Salah satu teman kami, mengatakan, ternyata seribet ini kehidupan di desa, bukan hanya masalah tentang jalanan yang sulit dilalui atau masalah hasil pertanian yang sulit dipasarkan tetapi masalah sosial-politik juga terasa sekali di desa. 

Itulah sekilas cerita yang kami temukan untuk dibawah pulang. (Red.pikiRindu)

Pikiran Terjebak di Rumah Wunut Saat Pulang

 

Mbaru wunut
Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Imajinasi.pikiRindu - Suatu waktu tepatnya jam 09.00 wita, ketika berjalan dari lapangan motang rua ke arah selatan menuju rumah wunut, muncul pikiran yang aneh sambil melangkahkan kaki untuk berjalan pulang. 

Baru beberapa langkah, pikiran itu semakin kacau dan terasa berat. Entah apa yang sedang merasuki pikiran ketika sedang berjalan sambil mata tertuju pada rumah wunut itu.

Tepat di depan rumah wunut, kaki menghentikan langkahnya dan mata melihat bahwa betapa ramainya tempat itu. 

Anak-anak berpakaian seragam pramuka sedang berdiskusi di sekitar rumah wunut dan ada pula yang masuk ke dalam bersama seorang guru berambut putih dan berpakaian usang.

Karena Takut

 

Sumber foto: halodoc.com

Langkah ini sudah semakin jauh, bahkan mendekati puncak. Ada yang merongrong dari dalam, membentak, membunuh semangat juang. 

Semua berawal dari pikiran yang tak beralasan, masuk ke dalam hati dan menggoncang jantung. Pemicu segala kekuatiran yang terjadi.

Dari puncak merapi berterbangan burung-burung, membentangkan sayapnya dengan penuh suka cita. Tatapan mata mereka menunjukan tak ada rasa cemas, keberanian membentang di setiap helai bulu sayapnya. 

Menunjukan padaku tentang keberanian mereka menaklukan bumi yang aku pijak. Mereka hanya ingin bebas hidup tanpa beban dipundaknya. Apa pun itu, hanya demi kehidupan dan kelangsungan hidup.

Baca Juga: Lelaki Egois

Baca Juga: Kejujuran Hati Pemilik Rasa

Lalu ku tengok diriku. Aku tak punya sayap untuk ku bentangkan di langit biru. Sekalipun ada, aku takut. Tak ada keberanian menaklukan bumi. 

Lalu, ku bongkar hati dan pikiranku dengan keras, dan ku lihat, aku masih memiliki satu senjata dengan satu amunisi. Senjata keyakinan dengan amunisi semangat. 

Sepertinya, sudah waktunya aku gunakan senjata dan amunisi yang tersisa satu itu. Ku bakar amunisi itu dengan menarik pelatuk yang ada di senjataku, hancurkan musuh ketakutan itu.

Kemenangan harus ku raih, apapun itu, hanya satu kesempatan untuk menembus pintu kejayaan. Saatnya, aku langkahkan kaki menuju puncak dan taklukan bumi yang kupijak, robohkan tembok pemisah itu. 

Saatnya aku harus berani dan percaya diri menjadi sosok yang berarti dan penuh kebebasan untuk hidup dan kehidupan.


Ricard Jundu

Penyuka karya seni dan sastra yang sudah menulis di berbagai media cetak dan online

Favorit Pembaca




Copyright © pikiRindu. All rights reserved.
Privacy Policy | About | Kontak | Disclaimer | Redaksi