Ads Right Header

Buy template blogger

CERPEN: Yang Diinginkan Mati || Karya Ramli Lahaping

 


Biji-biji buah rambutan dari mulut belasan pemabuk itu, lantas berserakan di lokasi acara

PIKIRINDU.com- Keinginannya untuk membunuh telah menyala dan padam silih berganti. Setiap kali berada di kebunnya, dan pohan rambutan itu tertangkap pandangan matanya, ia selalu berhasrat menebangnya. Tetapi sial. Selalu saja muncul alasan penyangkal di dalam benaknya untuk tidak melakukannya. Dan akhirnya, setelah tenang, ia akan merasa sebaiknya begitu. 

Memang sudah terlambat baginya untuk mengambil keputusan nekat. Pohon itu telanjur bertumbuh lebih dari enam tahun, hingga tingginya lebih dari lima meter. Apalagi setelah pohon tersebut dipenuhi bunga bakal buah, ia jadi makin dilematis di antara dua pilihan: menebangnya demi memutuskan rantai dosanya, atau mencari jalan untuk membuatnya menjadi hak. 

Belum lagi, kalau menebang pohon rambutan itu, ia akan dicap miring. Para warga akan menganggap dirinya telah kehilangan kewarasan. Istrinya pun akan marah sebab ia membunuh pohon bakal sumber keuangan keluarga mereka. Dan tentu saja, putra semata wayangnya akan bersedih karena gagal mencicipi buah rambutan itu setelah menunggu begitu lama.

Ia menyadari betul kalau penilaian-penilaian itulah yang akan ia dapatkan kalau menebang pohon rambutan tersebut. Ia merasa itu wajar, sebab kalau begitu, secara kasatmata, ia berarti menebang tanaman di lahan kebunnya setelah terpelihara dan tumbuh bertahun-tahun. Apalagi, pohon itu tampak akan menghasilkan banyak buah, seperti yang diharapkan orang-orang.

Tetapi bagaimanapun, keinginannya membunuh pohon rambutan itu, didasarkan pada pertobatannya atas laku dosanya di masa lalu. Dahulu, ia tak ubahnya berandalan yang doyan mabuk-mabukan dan mencuri. Karena tingkahnya itu pula, sepohon rambutan tersebut tumbuh di tepi kebunnya. Sebuah muasal yang membuat pohon itu bukan benar-benar haknya. 

Ceritanya, di titik pohon rambutan itu hidup, dahulu, ia dan kawan-kawannya kerap mengadakan acara minum tuak. Lokasi itu menjadi tempat favorit karena berbatasan dengan sungai dan sepetak kebun yang tidak terurus. Keadaan itu membuat pesta terlarang mereka jadi aman dari penglihatan para warga, terutama dari tetua dan tokoh agama desa. 

Sampai akhirnya, pada satu hari, menjelang pesta, ia dan kawan-kawannya mendambakan camilan pendamping untuk minuman tuak. Seketika, ia terpikir untuk mencuri rambutan milik imam desa yang hanya berselang satu petak kebun dari kebun peninggalan orang tuanya itu. Bersama seorang temannya, ia lalu nekat beraksi dan berhasil membawa setengah karung buah rambutan tersebut ke lokasi mabuk-mabukan.

Pesta tuak kemudian berlangsung meriah dengan iringan santapan buah rambutan yang manis. Biji-biji buah rambutan dari mulut belasan pemabuk itu, lantas berserakan di lokasi acara. Hingga akhirnya, di kemudian hari, beberapa biji rambutan itu bertunas. Karena titik itu memang kosong dan pas untuk ditanami sebuah pohon, ia pun membiarkan satu tunas bertumbuh. 

Tetapi sebenarnya, ia hanya andil pada awal pertumbuhan pohon rambutan itu. Ia tak mengurusinya sampai berumur lebih dari enam tahun. Pasalnya, di tengah kehidupannya yang karut-marut, ia memutuskan beranjak ke pulau seberang dan bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit. Ia pergi meninggalkan tudingan-tudingan warga kalau ia adalah dalang dari aksi pencurian yang terjadi di desa, termasuk pencurian buah rambutan tersebut.

Namun baru satu setengah tahun berkerja di sana, ia malah digelandang ke dalam sel penjara. Ia kedapatan mencuri uang bakal gaji karyawan perusahaan di rumah mandornya sendiri. Ia kemudian mendekam di balik jeruji selama tiga tahun dan berhasil menginsafi perilakunya. Ia lalu pulang kampung sebagai pribadi yang saleh. Ia lantas menemukan kalau pohon rambutan dari biji buah curiannya telah bertumbuh besar di bawah pemeliharaan istri dan anaknya yang mengira kalau pohon itu berasal dari bibit yang ia beli dari kios pembibitan, sebagaimana cerita karangannya. 

Demikianlah akhirnya, hingga ia terjebak di dalam kegalauan perihal keberlangsungan hidup sepohon rambutan itu. Ia kerap kali berkehendak untuk menebangnya, tetapi selalu saja batal karena beragam alasan. Selain karena ia akan kesulitan memberikan penjelasan yang masuk akal kepada warga, istri, dan anaknya, juga karena ia terpikir pada alternatif untuk mendapatkan pengabsahan agar pohon itu menjadi haknya. Ia terpikir untuk mendapatkan pemaafan dan keridaan atas pohon rambutan itu kepada pemilik biji muasalnya. 

Tetapi pelik baginya. Sang imam desa pemilik pohon rambutan yang ia jarah dahulu, telah meninggal sembilan bulan sebelum ia kembali ke kampung. Sang iman yang belasan tahun menduda itu, wafat dan hanya meninggalkan seorang putra yang telah berkeluarga dan hidup menetap di kota seberang. Karena itulah, ia masih terus berusaha menemukan jalan pemaafan dengan mencari nomor kontak sang putra iman desa itu. 

Namun seiring waktu, di tengah upayanya mencari pengikhlasan, bunga-bunga sepohon rambutan itu terus berkembang. Ia pun khawatir kalau buah rambutan itu akan masak dan ia belum juga berkontak dengan sang putra. Hingga akhirnya, ia sampai pada alasan pemakluman yang lain. Ia pasrah saja membiarkan buah pohon rambutan itu masak, dan nantinya, ia akan membagi-bagikannya kepada para warga. 

Tetapi rencananya atas kekhawatirannya, tampak tidak akan terwujud. Nyatanya, setelah sekian lama, ketika bunga-bunga rambutan para warga membulat dan membesar, bunga rambutan di tepi kebunnya itu malah berguguran. Dan saat buah rambutan para warga menuju kematangan, bakal buah rambutan itu malah nyaris habis berjatuhan, seperti dirontokkan penyakit ganas.

Namun keadaaan yang aneh itu, sama sekali tidak membuatnya kecewa. Ia bahkan merasa kalau kondisi itu adalah takdir yang semestinya dan sebaiknya atas sebuah pohon rambutan yang tumbuh dari biji buah curiannya. Kenyataan itu seolah merupakan jalan keluar terbaik atas keinginan awalnya agar anak dan istrinya tidak mengkonsumsi buah dari laku dosanya dahulu.

Sampai akhirnya, dua hari yang lalu, seorang warga yang melintas setelah pulang dari kebunnya, mencoba mencermati keadaan pohon rambutan tersebut. Beberapa lama berselang, lelaki tua itu kemudian memberikan vonisnya, "Pohon rambutanmu ini memang tidak akan menghasilkan buah. Ia hanya akan berbunga, tetapi tidak akan membesar dan masak sebagai buah."

Ia sontak keheranan. "Kenapa bisa begitu, Pak Haji?"

Lelaki berjanggut panjang itu lalu menyungging miris. "Rambutan ini, rambutan jantan."

Mendengar itu, ia pun terenyuh, lantas meminta penegasan atas terkaan asal-asalannya beberapa waktu sebelumnya, "Apa benar begitu, Pak Haji?”

Lelaki sepantaran almarhum ayahnya itu mengangguk keras. "Aku pastikan.” Ia lalu menarik sebuah dahan pohon rambutan tersebut dan menunjukkan buktinya. “Lihatlah. Kalau pucuknya berwarna kemerahan seperti ini, berarti memang rambutan jantan.” 

Akhirnya, ia mengangguk paham dengan perasaan tenteram.

"Sampai kapan pun, kau tidak akan memakan buah dari pohon rambutan ini. Lebih baik kau tebang secepatnya dan menggantinya dengan tanaman yang lain," saran sang lelaki tua. 

Ia kembali mengangguk dengan kesediaan penuh untuk melaksanakan saran tersebut. 

Dan akhirnya, saat ini, ia pun menebang pohon rambutan itu di depan anak dan istrinya yang telah memeliharanya selama bertahun-tahun. Ia melakukannya dengan perasaan tenang ketika kedua orang itu tampak bersedih. Ia merasa telah telah berhasil memutuskan rantai dosanya yang tidak diketahui anggota keluarganya tersebut. (Red.pikirindu)

Penulis merupakan seorang blogger kelahiran Gandang Batu, kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Blog pribadi: sarubanglahaping.blogspot.com.


Previous article
Next article

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel