-->


Kumpulan Puisi Kritik Sosial || Ricard Jundu

Jarum
Ilustrasi: pixabay.com

Debu di Musim Angin

Lupa, kapan terakhir melakukan hal bodoh
Tertawa sendiri, lalu banyak waktu terbuang percuma
Dulu, pengorbanan tak boleh dianggap remeh
Kini, hanyalah kisah penuh remah luka

Kisah hayalan para pemimpi
Lalu, jadi bahan candaan tanpa henti
Kisah masa lalu yang bergulat dengan janji  
Hanya bisa diresapi, berharap sang waktu menghantarnya pergi

Mengapa dulu kau masuk dan merasuki?
Pikiran ini sempit, terhimpit manisnya janji
Janji yang penuh dengan debu di musim angin
Singgah sebentar dan kembali pergi

@Ruteng, Januari 2022

Hubungan Retak

Duhai rakyat, kekasih penguasa
Kau disayang, dimanja, dan dicinta 
Layaknya bunga oleh kumbang yang menggoda
Ternyata semua itu fana

Di sini, rakyat penuh kerinduan
Di sana, penguasa penuh hawa nafsu
Rakyat menyuarakan kepenatan
Penguasa mengelak dengan rayuan palsu

Ada yang salah dalam hubungan ini
Rakyat mencinta tanpa kepastian
Penguasa menjerit, seolah terbebani
Dari dulu juga begitu tanpa perubahan

Rintihan ini begitu perih, jauh sampai ke lubuk hati
Tapi ditindih argumentasi sejuta narasi
Sampai kegaduhan pun tak sanggup melerai
Hubungan kita retak sampai di sini


@Ruteng, Januari 2022

Ruangan Fana Tuanku

Dimensi waktu masih berjalan
Pelangi menghibur mata sesaat
Lalu hilang perlahan
Kembali lagi di saat yang tepat

Ah, tuan

Kau datang, lalu pasti pergi lagi
Tuanku, mau sampai kapan kau mengisi lumbung ini
Perlahan tikus kecil juga melahap dalam sunyi
Sampai tuanku terdiam, lalu tersakiti

Dunia ini fana, apalagi yang kau mau
Tuanku, sebaiknya kau sudahi maumu
Ruang gemerlap yang kau ciptakan juga selalu diburu
Karena yang lapar dan haus bukan hanya engkau, tuanku

Kembalilah ke doa ibu
Saat tuanku kecil dulu
Biarlah badai ego tuan berlalu
Karena tuanku harapan dari masa lalu


@Ruteng, Desember 2021

Narasi Jalanan

Sepintas terdengar, seperti suara buih di bebatuan
Nadanya menyejukkan hati tanpa irama yang mati
Kau juga pasti terpesona sampai jatuh 
Katanya selalu lembut dengan janji tanpa henti

Berusaha untuk meyakini walau hanya ilusi
Jalanan ini jadi saksi atas ucap dari lidah tak bertulang
Teriakkannya membabi buta sampai semua terpana

Tentang aku yang kalian butuhkan
Tentang aku bukan penipu 5 tahunan
Tentang aku adalah utusan

Jalanan ini menjadi bukti kuat
Teriak histeris, ramai bagai petir menggelegar hebat
Membius keraguan hati rakyat
Selalu begitu, dari dulu juga begitu, rakyat selalu terpikat

Perubahan hanyalah kursi manja di gedung mewah
Rakyat tetap begitu saja
Jalanan itu dulu hanyalah bukti peninggalan janji manis yang terasa pedis
Rakyat selalu dibutakan oleh paras dan rayuan tanpa batas

Sayang seribu sayang masih tertipu dengan nada merdu
Dalam irama nada yang  selalu sama
Narasi jalanan hanyalah rayuan belaka, bagai pria menggoda pujaan hati
Selalu terbuai dan terjatuh, lalu mendekat kembali tanpa ragu walau tertipu lagi


@Ruteng, Desember 2021

Jarum Patah

Sembari bersujud syukur, kuteriakan kemenangan
Sampai merinding, lalu meneteskan air mata
Sejenak, lelah terbayar dengan kepuasan

Semuanya, lalu menghilang begitu saja
Saat ini, pikirku terpaku oleh janji manis dalam kenangan
Sesaat sanubariku terluka, waktu terbuang menunggu janji belaka

Sumpah, hati terluka
Sakit rasanya, janji berbunga harapan palsu
Satupun harapan itu tak ada

Sia-sia pengorbanan mendulang suara
Serasa berat melupakan tapi harus dikenang
Sampai di sini, hubungan kita retak

Suara lesuku biar tersimpan di hati
Suara lesuku biar menjadi sampah tak berguna
Sudahlah, cukup sampai di sini saja

Selamat tinggal janji manis

@Ruteng, November 2021


Penulis merupakan orang yang suka jalan-jalan di pedalaman Flores - NTT. Penulis juga penyuka karya sastra dan seni, pegiat usaha mikro yang bergerak di ekonomi kreatif-bisnis digital dengan nama usahanya Flores Corner (naiqu, cemilan santuy, dan JND desain), serta pengajar di Unika Santu Paulus Ruteng. Hasil tulisan penulis sudah banyak dipublikasikan di berbagai media cetak dan online. 

Related Posts

Favorit Pembaca




Copyright © pikiRindu. All rights reserved.
Privacy Policy | About | Kontak | Disclaimer | Redaksi