-->

Masa Adven Membawa Perubahan dalam Menghadapi Cobaan Hidup

Foto penulis dengan latar yang bersumber dari pixabay.com

Penulis: Benedito Jose Soarez, Editor: Selvianus Hadun

Memaknai Masa Adven

pikiRindu - Makna dan arti dari masa Adven adalah harapan dan penantian atas kedatangan Sang Mesias. 

Di masa ini perubahan-perubahan besar akan terjadi, jika manusia mau untuk terlebih dahulu merubah diri sebab Masa Adven juga merupakan kesempatan bagi kita untuk bercermin diri. 

Penantian itu akan indah, jika kita selalu sabar menanti. Rasa penantian juga terkadang dipenuhi dengan rasa kecemasan dan gundah. 

Dari perasaan seperti inilah timbul ketidaksiapan dan ketidaktahuan atas suatu penantian yang besar. Hal-hal seperti ini perlu diperbaharui dalam masa Adven tahun ini. Banyak orang mengatakan bahwa saat penantian adalah suatu yang sangat tidak mengenakan dan tidak menguntungkan. 

Sebab dasarnya ialah waktu yang tersedia untuk menunggu menjadi saat-saat yang sangat membosankan, idle atau kosong, tidak ada yang dilakukan atau dikerjakan. 

Saat-saat menunggu bisa menjadi waktu yang melemahkan persiapan kita. Namun, bagi orang yang percaya akan kedatangan Yesus, ia sanggup untuk menanti dengan penuh kesabaran. 

Pandangan Orang Katolik Mengenai Masa Adven

Berbeda dengan paradigma orang Kristen Katolik mengenai masa Adven atau masa penantian. Orang Katolik meyakini bahwa masa penantian adalah suatu pemenuhan akan janji dari Sang Mesias bahwa Ia akan datang ke bumi, (Mat 24:30). 

Baca Juga: Jelang Natal 2021, Alasan Maria Kunjungi Elisabet Barulah Terkuak

Dalam perikop injil matius ini merupakan sebuah misteri yang besar karena tak satupun yang dapat mengetahui kedatangan Anak Manusia itu, hanya Allah Bapa saja yang mengetahuinya. 

Kedatangan Yesus membuat begitu banyak interpretasi dari umat manusia yang pada akhirnya muncul banyak pertanyaan, misalnya: Apakah Anak Manusia benar-benar akan datang ke bumi? Apakah akan terjadi kebangkitan umat atau dalam Bahasa arab Al Qiyamah? ataukah terjadi suatu yang mengakhiri zaman ini atau Parousia? 

Dan jawaban yang sering dilontarkan atas pertanyaan ini adalah bahwa soal kedatangan Anak Manusia Hanya Bapa Yang Tahu. (Mat 24:30).

Namun, mereka yang menjawab seperti ini adalah orang yang memiliki iman yang sangat minim. Iman seperti ini sama seperti sebuah Kabut yang hanya muncul pada pagi hari yang akan hilang bila datang angin atau matahari yang panas. 

Jika kita mau untuk mendapat jawaban yang baik dan benar atas kedatangan Sang Mesias, maka kita perlu membuka Kitab Suci yang merupakan salah satu sumber iman orang Kristen Katolik. 

Salah satu ungkapan akan kedatangan Yesus Kristus adalah dalam Injil (Yoh 14:2-3) yang mengatakan bahwa kedatangan anak manusia itu benar dan kedatangan-Nya untuk menjemput orang-orang saleh dan benar juga Ia datang untuk memperbaharui dunia yang penuh dengan kekerasan dan keserakahan manusia. 

Dalam masa Adventum atau masa Kedatangan ini, kita semua diajak untuk bersiap sedia.

Adven Sebagai Harapan Untuk Kembali

Bersiap sedia bukan berarti berdiri tegak lurus tanpa melakukan sesuatu pun dalam penantian ini. 

Bersiap sedia artinya kita perlu bergerak untuk mengubah semua hal-hal buruk yang kadang merugikan diri kita dan orang lain, seperti; Kebencian, kedengkihan, keserakahan, ketamakan, dan kejahatan-kejahatan lainya yang telah kita lakukan pada tahun ini. 

Mari kita coba di masa penantian ini, kita ganti semua yang jahat dengan yang baik, kebencian dengan  kasih, keserakahan dengan keadilah, pembunuhan dengan pengampunan dan yang terpenting kita juga harus mengurangi suatu sifat yang sangat mempengaruhi diri kita yakni libero arbitrio atau kehendak bebas. 

Semuanya ini harus kita ubah dan kurangi karena, tujuan kedatangan Anak Manusia untuk membawa sukacita ke dalam Rumah Bapa bukan duka cita. 

Karena Bapa tak pernah bosan untuk mengampuni Anak-anak-Nya, malahan Ia setiap hari dan setiap saat menantikan permohonan ampun dari anak-anak-Nya, sebab kerajaan-Nya akan bersukacita bila salah seorang dari umat-Nya bertobat dan mohon ampun. 

Allah pun sungguh berkuasa atas seluruh hidup kita, bahkan dari telapak kaki hingga helai rambut, kata Amsal. Namun, hanya satu tindakan yang Allah tak sanggup menghalanginya yakni kehendak bebas. 

Dalam masa adventum atau masa penantian ini kita sebagai umat Allah yang dikasihi diajak dan diberi kesempatan untuk bercermin diri, dan hendaklah kita juga bertanya pada diri sendiri; Apakah aku sudah pantas dan layak menyambut Sang Anak Manusia (Yesus)? 

Pertanyaan seperti ini, jika dilihat dari sisi tulisan, hanyalah sebuah kalimat yang pendek tetapi jika direfleksikan dengan penuh iman, pertanyaan seperti ini dapat mengubah hidup seseorang. 

Baca Juga: Kikisnya Kesadaran Lingkungan

Di masa adventum atau masa penantian ini marilah kita masing-masing membuat suatu confenssio atau pengakuan dari dalam diri kita agar dapat menemukan kesalahan dan kelalaian yang telah lama kita banggakan juga di saat ini kita diajak untuk  meninggalkan semuanya itu.

Kita diajak untuk mempersiapkan diri dengan baik sehingga semua petaka dan kejadian buruk yang telah menimpa kita pada masa atau tahun ini, Misalnya; virus corona, gempa bumi, longsor, tsunami dan bencana alam lainya dapat diperbaharui oleh kedatanggan Anak Manusia, sebab tidak semua bencana alam yang terjadi akibat alam yang tercemar dan pembangunan-pembangunan yang modern, melainkan  juga atas keserakahan dan dosa kita sebagai manusia itu sendiri. 

Seperti sebuah lirik lagu milik Ebit G Ade yang berjudul "Berita Kepada Kawan", mengatakan bahwa; mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu bangga dan salah atas dosa-dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. 

Lagu ini Ia persembahkan kepada sebuah daerah yang pernah tertimpa tsunami. Maka di masa penantian ini, kita semua diundang untuk selalu berjaga-jaga dan berdoa mohon ampun sebelum tiba kedatangan Sang Anak Manusia (Yesus).

Baca Juga: Masalah Perdagangan Manusia Sebagai Akibat Hilangnya Rasa Kemanusiaan

Berjaga-Jagalah 

Berjaga-jagalah berarti kita selalu berharap. Paus Fransiskus Mengatakan bahwa: “Keinginan saya pada tahun ini adalah jangan kehilangan harapan, sebab harapan yang nyata tidak pernah mengencewakan. 

Dengan berharap kepada Allah, kita dapat memperoleh sebuah gaudium et spes atau sukacita dan harapan yang akan mengubah hidup kita”. 

Berjaga-jaga artinya kita dituntut untuk melakukan kebaikan-kebaikan lewat tindakan atau perbuatan langsung dan itulah yang utama bagi Tuhan. 

Berjaga-jagalah, ini merupakan ucapan dari Sang Anak Manusia untuk para murid-Nya yang selalu setia menantikan kedatangan-Nya di dunia ini. 

Suatu hal yang perlu kita dilakukan dalam berjaga-jaga adalah dengan melakukan suatu yang bermanfaat bagi sesama manusia tanpa memandang latar belakang. Berjaga-jagalah juga dengan selalu berdoa dan memuji Tuhan. (Red.pikiRindu)

Penulis tingal di Biara OSM Golo Bilas 

Related Posts

Favorit Pembaca





Copyright © pikiRindu. All rights reserved.
Privacy Policy | About | Kontak | Disclaimer | Redaksi