-->

Kikisnya Kesadaran Lingkungan

Sumber foto latar: pixabay.com

Penulis: Stefanus Jehalut, Editor: Selvianus Hadun

Pikiran.pikiRindu - Dalam kehidupan yang kian modern seperti sekarang ini, begitu banyak problematika yang terjadi atau tantangan mengglobal umat manusia yang selalu diperbincangkan. 

Salah satu tantangan itu adalah krisis kesadaran terhadap ekologi. Pemerintah dan masyarakat merasakan keprihatinan yang sangat mendalam mengenai krisis kesadaran terhadap ekologi ini. 

Hal ini terjadi karena minim dan kikisnya kesadaran terhadap lingkungan tempat mereka tinggal dan tidak menyadari udara yang mereka hirup setiap hari, air, organ tubuh yang bersumber dari lingkungan.

Minim dan kikisnya nilai kesadaran manusia mengenai lingkungan tempat manusia tinggal akan menyebabkan munculnya eksploitatif terhadap lingkungan. 

Dalam hal ini alam mempunyai makna lain yaitu tempat untuk memuaskan keinginan manusia yang rakus karena memanfaatkan alam secara berlebihan tanpa mempertimbangkan prinsip ekologis untuk mencintai alam sebagaimana manusia mencintai dirinya. 

Masalah ekologi bukanlah masalah yang diragukan lagi sebab lingkungan yang yang dulunya hijau permai kini menjadi tanah tandus yang penuh kehancuran. 

Dalam hal ini lingkungan yang kita tinggal semakin menjadi tidak layak lagi karena kerusakan yang ditimbulkan sebagai banyaknya aktivitas manusia.

Jika kita melihat kembali kisah penciptaan bahwa sebelum Allah menciptakan manusia Ia terlebih dahulu menciptakan tumbuh-tumbuhan, pohon yang berbuah dan hewan, Allah pun melihat segalanya baik. 

Lalu terakhir, Allah menciptakan manusia. Ciptaan yang terakhir inilah yang membawa kehancuran dan kerusakan bagi semua ciptaan Allah yang lainnya. 

Dalam hal ini kita dapat mengambil sebuah konklusi bahwa manusia merendahkan derajatnya sebagai mahluk yang berakal budi karena tidak mampu memilah yang baik dan yang tidak baik. 

Saya mengatakan hal ini karena ciptaan Allah yang sebelum manusia tidak pernah merusak alam yang mereka tinggal, dalam hal ini binatang -binatang yang Tuhan ciptakan jauh lebih baik dari pada manusia yang berambisi untuk menguasi yang Tuhan telah ciptakan tetapi pada akhirnya menyeret pada liang kehancuran.

Baca Juga: Waspada Defisit Lingkungan

Deskripsi Singkat Tentang Ekologi

Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Ernst Haeckel, seorang murid Darwin pada tahun 1866, yang menunjukkan pada keseluruhan organisme atau pola hubungan antara organisme dan lingkungannya.

Ekologi bersal dari kata Yunani; Oikos dan logos, yang secara harafiah berarti rumah dan pengetahuan. Ekologi sebagai ilmu berarti pengetahuan tentang lingkungan hidup atau planet bumi ini sebagai keseluruhan. 

Bumi dianggap sebagai tempat kediaman manusia dan seluruh maklup dan benda fisik lainnya. Selanjutnya, menurut Wilam Chang, secara harafiah ekologi berarti penyelidikan tentang organisme-organisme dalam jagat raya. Denis Owen, ekologi selalu berurusan dengan relasi antara tumbuhan, hewan, dan lingkungan di mana mereka hidup. 

Bumi merupakan kediaman bersama dengan mahkluk lainnya. Dengan kata lain bumi merupakan yang di dalamnya manusia, hewan, tumbuhan, dan materi lainnya hidup secara berdampingan seperti yang dikatakan Febry suryanto, SVD dalam bulletin paguyuban frater SVD Manggarai yang berjudul "Menjadi Katolik Di Tanah Congka Sae."

Jika melihat defenisi di atas bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri, sebab planet bumi ini tidak diciptakan khusus kepada manusia tetapi di bumi ini masih ada mahkluk lain yaitu; hewan, tumbuhan dan materi lainnya artinya manusia harus hidup berdamai dengan semua yang ada ini karena semuanya harus saling bergantungan, sebab manusia tidak bisa hidup tanpa air, udara tumbuhan, hewan.

Baca Juga: Jembatan Yang Ramai Dikerumuni Sampah

Ekologi dan Tindakan Serakah Manusia 

Dalam kehidupan kita sehari-hari, begitu banyak fenomena-fenomena yang terjadi di luar dugaan kita seperti; gempa bumi, longsor, polusi, angin topan, tsunami, dan banjir. Hal-hal ini adalah fenomena alam yang sulit kita prediksi kapan akan terjadi. 

Dari pristiwa-pristiwa ini jika saya merefleksikan secara mendalam dan melihat tingkah laku manusia modern pada alam maka semua yang terjadi itu (bencana alam) sebagai dampak dari perilaku manusia terhadap alam itu sendiri.

Dalam refleksi pribadi saya juga mengenai ekologi bahwa manusia yang mempunyai akal budi sering kali kehilangan akal sehat dalam memaknai alam bagi kehidupannya. Manusia cenderung memiliki ego untuk menguasai alam dengan tidak bijaksana sehingga kerap kali memperlakukan alam disekitanya secara berlebihan.

Tindakan-tindakan seperti inilah yang akan membuat planet bumi ini mengalami penurunan kualitas lingkungannya karena manusia menggunakan ego untuk meraup keuntungan dari alam.

Kerusakkan lingkungan ini juga akan menggeser dan menggusur keindahan ciptaan Tuhan. Kerusakan lingkungan hidup menyebabkan lingkungan tempat kita tinggal tidak lagi indah, tidak lagi tampil ramah tetapi yang ada hanyalah bencana bagi kehidupan.

Berbicara tentang ekologi berarti berbicara tentang lingkungan tempat kita tinggal bisa direfleksikan dari ungkapan orang manggarai tentang lingkungan:

Neka poka puar rantang mora usang

Neka tapa satar rantang mora kaka puar

Kudut kembus kid wae teku mboas kid wae woang

Artinya; Jangan merusak lingkungan agar kehidupan tetap berjalan dengan baik.

Tentunya ungkapan ini tidak hanya di tunjukan kepada orang manggarai tetapi kepada kita semua yang berada di planet yang sama ini agar kita benar-benar merawat bumi lebih baik ke depannya untuk keberlangsungan hidup anak cucu.

Prof. Lynn White mengatakan; Agama Kristen menciptakan dualisme manusia dan alam serta telah menjadi kehendak Allah agar manusia memanfaatkan alam untuk kepentingannya. Karena itu tidaklah mengherankan jika orang mengatakan; kekayaan atau potensi alam harus dimanfaatkan.

Perintah pertama yang di peroleh manusia dari penciptanya adalah menguasai (menggunakan) segala ciptaan lain demi pemenuhan kebutuhannya. 

Pandangan antroposentris ini manusia menjadi pusat segala nilai telah menempat manusia pada penguasa alam dan merendakan martabat ciptaan lain yang berimplikasi pada semakin meningkatkan pengerusakan alam (non human) yang dilakukan manusia yang pada gilirannya akan membawa bencana dan kesengsaraan bagi manusia.

Kenyataan ini mendorong manusia untuk mencari penafsiran baru yang bersifat ekologis.

Baca Juga: Pengaruh Politik Dalam Lingkaran Kekuasaan

Semua Ciptaan Tuhan Sama di Mata-Nya 

Kerusakan alam merupakan kondisi dan masalah lingkungan yang semakin dirasakan oleh semua umat manusia di seluruh dunia. kerusakan ini di sebabkan karena kikisnya kesadaran terhadap lingkungan, pemahaman yang keliru, dan penafsiran yang keliru tentang lingkungan.

Maka kita diundang untuk membawa perspektif baru di tengah-tengah dunia yang terbatas rasa kebijaksanaanya tentang ekologi. Kita harus bisa membawa perdamaian di tengah lingkungan yang sudah hancur karena keegoisan dan kerakusan manusia, sebab segala sesuatu yang di ciptakan oleh Tuhan baik manusia, hewan maupun tumbuhan sama-sama berarti dihadapan Allah. 

Kita juga membawa kesadaran ekologis untuk membuka cakrawala berpikir dari manusia, bahwa sesama ciptaan mempunyai nilai dan makna yang sama dihadapan sang pencipta. Semoga dengan kesadaran ini mendorong kita sebagai manusia untuk terus menerus menjaga dan memelihara lingkungan agar tetap eksis dan memberi hidup bagi semua generasi penerus. (Red.pikiRindu)

Isi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Penulis merupakan seminaris OSM Golo Bilas Karot Ruteng

Related Posts

Favorit Pembaca





Copyright © pikiRindu. All rights reserved.
Privacy Policy | About | Kontak | Disclaimer | Redaksi