-->

Kampung Adat Todo Memikat Hati

Gambar Niang Todo (Foto: dokumen pribadi)

Kreatif.pikiRindu- Perjalanan ke kampung adat Todo, kalau dulu memang terasa melelahkan. Biasanya naik bus kayu karena perjalanan ke sana hanya bisa ditempuh menggunakan kendaraan seperti itu.

Kini, perjalanan itu terasa berbeda, kita sudah bisa pakai motor roda dua ke sana karena jalanan yang mulus hampir tak berlubang (kondisi saat penulis berkunjung di tahun 2022).

Mengapa saya memilih menggunakan kendaraan bermotor untuk melakukan perjalanan ke kampung Todo? Alasannya, saya ingin merasakan udara segar di antara pepohonan dan hamparan perbukitan yang menjulang tinggi.

Perjalanan kali ini, dimulai dari Ruteng, ibu kota kabupaten Manggarai. Saya melakukan perjalanan ke arah barat jalur Ruteng - Labuan Bajo. Sampai di pertigaan Pela, saya belok kiri ke arah selatan.

Dalam perjalanan ke arah selatan, saya melihat banyak sajian keindahan alam yang ditambah lagi dengan segarnya angin spoi. 

Apalagi sampai di suatu tempat, namanya "Kebe Gego", pasti anda juga akan tertarik untuk berhenti sejenak menikmati pemandangan alam yang begitu indah. Indah sekali. Keindahannya bisa membuat mata terasa segar kembali setelah keseringan berhadapan dengan layar laptop dan hp. Untuk sementara, saya sulit menggambarkannya dengan kata-kata karena sangat indah bagi kedua bola mata saya.

Kalau mau menikmati pemandangan alam sedikit lebih lama di Kebe Gego, sebaiknya jangan lupa makanan dan minuman ringan juga (kopi & kompiang). Saya jamin pasti lebih terasa nuansa kenikmatannya.

Setelah saya selesai menikmati indahnya lukisan Tuhan dari Kebe Gego, saya melanjutkan perjalanan ke kampung adat Todo. Jarak dari Kebe Gego ke kampung adat Todo lumayan dekat.

Sesampai di kampung adat Todo, saya langsung terdiam. Terdiam karena kagum dan merasa takjub dengan beberapa rumah adat yang menjulang tinggi.

Mungkin sudah banyak orang yang mengenal kampung adat yang satu ini, tentunya. Namun kali ini, saya menulis tentang kampung adat Todo ini agar bisa dikenal lebih luas lagi dan sebagai catatan perjalanan bagi anak cucu nantinya.

Kampung adat Todo sebagai kampung sejarah. Itu sebagai awal cerita untuk memperkenalkannya. Sejarah tentang bagaimana Manggarai terbentuk.

Kampung adat Todo terletak di wilayah selatan kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Tepatnya di kecamatan Satarmese Barat.

Dari sinilah cerita masa lampau tentang sebuah tatanan kehidupan masyarakat Manggarai ingin dipersatukan untuk membentuk suatu wilayah dengan persatuan yang kuat dalam membangun kehidupan bersama masyarakat Manggarai ini (jauh sebelum Kehadiran Belanda). Selat Sape salen, Wae Mokel awon (Dari selat sape di ujung barat sampai di Wae Mokel ujung timurnya).

Kampung adat Todo juga dikenal sebagai kampung adat yang memiliki karateristik budaya lokalnya yang sangat kental. Budaya yang menjadi payung untuk menopang perjalanan masyarakatnya.

Di sana, terbentuk sebuah komunitas kehidupan yang kental dengan pewarisan nilai leluhur yang terus diwariskan dan dipertahankan oleh para penerusnya.

Tatanan kehidupannya sangatlah unik karena menjadi salah satu kampung adat yang masih mempertahankan budaya lokalnya di Indonesia. Di sana rumah adatnya memiliki ciri khas yang berbeda dari rumah adat suku-suku lainnya di Indonesia.

Rumah adatnya dikenal dengan sebutan "niang". Niang sebagai tempat untuk bernaung dan berlindung bagi masyarakatnya.

Mengapa kamu juga harus ke kampung adat Todo?

Pertama, di dalam niang, ada satu gendang yang terbuat dari kulit manusia berjenis kelamin perempuan. Namaya, Loke Nggerang. Cerita tentang Loke Nggerang ini sangat panjang jika saya menulisnya juga di sini. Nantilah, saya akan menulisnya di kesempatan lain.

Kedua, bentuk desain rumah adatnya sangatlah unik yang menunjukan ciri khas yang berbeda dari semua rumah adat yang ada di Indonesia. Atapnya berbentuk kerucut menjulang tinggi ke langit dan kelihatan dari jauh seakan atapnya juga sampai ke tanah.

Ketiga, ada meriam peninggalan Belanda yang mengarah ke depan, agak jauh dari niang yang memberikan nuansa perlindungan bagi masyarakatnya.

Keempat, jalan menuju ke niang terbuat dari susunan batu berbentuk lempeng sampai ke depan pintu niang. Ceritanya, batu itu tersusun rapih bukan sebagai buah karya manusia melainkan ada kekuatan gaib yang membentuknya. Jalan yang tersusun batu-batu lempeng menuju ke niang seperti sebuah pola bayangan dari niang ketika mentari pagi bersinar ke arah niang.

Kelima, pemandangan yang indah dengan laut lepas pantai selatan Flores, bukit-bukit yang menjulang tinggi, dan persawahan dengan desain terasering juga nampak jelas dari bagian belakang niang karena kampung adat todo berada di atas ketinggian. Baguslah buat tempat foto untuk kenangan, apalagi kalau bersama pasangan, keluarga, dan teman-teman.

Itulah lima alasan yang membuat kampung adat Todo memikat hati. Jika anda penasaran, silahkan langsung berkunjung saja ke kampung adat Todo. Jangan lupa pakai kain adat, towe Todo, saat memasuki area wisata.

Sebelum pulang, jangan lupa juga beli kain tenun, towe Todo, sebagai kenang-kenangan bahwa sudah pernah berkunjung ke kampung adat Todo. Di sekitar niang, banyak pengrajin yang menjualnya.

Ketika anda membaca tulisan ini, maka ketahuilah bahwa kampung adat Todo sedang mengundang anda juga untuk berkunjung. 

Ayo berkunjung ke kampung adat Todo.


Catatan Perjalanan: Ricard Jundu

Penulis merupakan orang yang suka jalan-jalan di pedalaman Flores - NTTPenulis juga penyuka karya sastra dan seni, pegiat usaha mikro yang bergerak di ekonomi kreatif-bisnis digital dengan nama usahanya Flores Corner (naiqu, cemilan santuy, dan JND desain), serta pengajar di Unika Santu Paulus Ruteng. Hasil tulisan penulis sudah banyak dipublikasikan di berbagai media cetak dan online. 

@Red.pikiRindu

Related Posts

Favorit Pembaca





Copyright © pikiRindu. All rights reserved.
Privacy Policy | About | Kontak | Disclaimer | Redaksi