-->


Part 01 Flisafat Pendidikan || Konsep Filsafat

Materi part 01
Ilustrasi Ricardus Jundu, S.Si., M.Pd (sumber: dokumen pribadi)

Pengertian filsafat

Berfilsafat artinya berpikir reflektif, yaitu berpikir merenung secara berkali-kali dari berbagai sudut pandang dan bersifat memantul kembali, guna menyoroti pada pemikiran itu sendiri sehingga diperoleh pengetahuan yang kritis, radikal dan menyeluruh. (Rene Descrates)

Filsafat adalah awal dari disiplin yang berkaitan dengan kebijaksanaan yang diambil dalam kehidupan manusia guna bersikap, bertindak sesuai dengan norma – norma yang ada untuk mencapai tujuan dalam memecahkan suatu masalah atau upaya untuk mencari suatu kebenaran, prinsip, dan penyebab realita yang ada.

Kebijaksanaan tidak bisa dengan cara biasa tetapi melalui langkah: berpikir kritis, berpikir analitik, berpikir sintetik (menggabungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru), berpikir skeptic (menanyakan bukti/fakta), dan mengkaji dari agama (moral, etika, kebaikan, dll).

Definisi filsafat beragam sesuai dengan perkembangan para filsufnya. Filsafat berasal dari kata Yunani “philosohia” artinya cinta kearifan (philos: cinta & Sophia: kebijaksanaan, kearifan, pengetahuan). Secara harafia artinya mencintai kebijaksanaan/pengetahuan (Pythagoras,572 – 497 SM).

Jhon Dewey (1858-1952) menjelaskan filsafat merupakan sarana untuk penyesuaian antara hal yang lama dengan hal yang baru dalam suatu kebudayaan. Pandangan ini tentunya disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang terjadi semasa hidupnya di Amerika.

Penyesuaian ini tentunya berhubungan dengan pengalaman yang berdasar pada kebenaran.Pandangan Dewey juga berpatokan pada sesuatu yang benar ketika dalam praktiknya kebenaran itu berguna. Alasan Dewey tentunya agar kehadiran filsafat haruslah berguna serta bisa memperbaiki  kehidupan manusia dan lingkungannya.

Moritz Schlick (1882-1936) menjelaskan filsafat merupakan aktivitas mental yang menjelaskan gagasan-gagasan dengan melakukan analisis untuk menemukan arti dari semua persoalan dan pemecahannya. Di sini, Schlick memisahkan antara pengalaman dan kognisi. 

Bagi Schlick, Pengalaman dan koginisi merupakan dua hal yang berbeda. Pengalaman bukanlah pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri harus didasari oleh adanya hasil analisis yang jelas untuk meneukan artinya.

Kajian Filsafat

Filsafat meliputi setiap hal yang mungkin dipikirkan manusia, mulai dari sikap sampai pada keseluruhan pengetahuan manusia. Dengan demikian, filsafat berperanan penting dalam perkembangan kehidupan manusia. Kajian filsafat berpatokan pada objek dari filsafat itu sendiri yaitu manusia, alam, dan Tuhan.

Kajian filsafat dikelompokan menjadi filsafat kritis (analitik) dan filsafat spekulatif. Filsafat analitik menjelaskan tentang arti dan pengertian. Filsfat spekulatif berkaitan dengan menyusun ide yang saling terkait dan logis.

Secara singkat kajian kefilsafatan meliputi yang ada, kenyataan, dan eksistensi. Yang ada berhubungan dengan yang dapat diterima oleh akal sehat. Kenyataan berhubungan dengan fakta yang bisa ditangkap indra. Eksistensi berhubungan dengan ruang dan waktu yang tentunya bisa ditangkap panca indra.

Contoh: kursi ada dan nyata. Eksitensinya terdapat dimana-mana (sesuai ruang dan waktu). Esensinya untuk duduk. Kursi memeiliki sifat terkait dengan kualitasnya (jati, mahoni atau dll). materinya> bisa terbuat dari kayu, besi, atau campuran. Modelnya bervariasi. Dari bentuknya bisa dibedakan dari meja. Perubahan berbagai bentuk kursi karena ada sebabnya.

Kajian filsafat sangat luas bergantung pada permasalahannya karena pada dasarnya permasalahan itu sendiri bersifat mendasar dan radikal. Ilmu pengetahuan dalam perkembangannya membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. 

Misalnya, ilmu kimia, fisika, biologi, psikologi, matematika, dan lainnya fokus pada bidangnya sesuai tujuan dengan membahas sesuatu dari sudut pandang tertentu dengan metode tertentu yang lebih sempit. Berbeda dengan ilmu filsafat yang membahas secara lebih umum dan menyeluruh. 

Bidang Kajian Filsafat


Metode Perenungan Filsafat

Berfilsafat berarti berpikir dan berpikir belum tentu berfilsafat. Berfilsafat mulai dari perenungan dilanjutkan ke pemikiran sampai pada tahap pemahaman. Perenungan dimulai dari keheranan atau meragukan sesuatu  dan sadar akan keterbatasan sehingga mendorong untuk berpikir.

Ketika kita heran atau ragu akan sesuatu maka secara tidak langsung menyadari akan keterbatasan kita. Keterbatasan yang kita miliki akan mendorong kita untuk berpikir untuk menemukan jawaban dari sesuatu yang membuat kita heran atau ragu.

Makna/peran filsafat bagi pengetahuan

Filsafat sebagai tool study (logika dan metodologi) bagi ilmu pengetahuan. Filsafat akan membantu agar kita berpikir untuk menyelesaikan suatu permasalahan. 

@Red.pikiRindu

Desain Hybrid Learning di Masa Pandemi

"Guru Tidak Boleh Kalah Dengan Teknologi Karena Belajar Adalah Sepanjang Hayat"

Penulis: Ricardus Jundu          Editor: Florida N. Kabut

Humaniora.pikiRindu - Di masa pandemi ini, banyak persoalan yang dihadapi bapak dan ibu guru tentunya. 

Salah satu kesulitannya, pastilah mengenai bagaimana mengelola kelas untuk belajar di masa pandemi ini agar belajar siswa tidak ketinggalan jauh.

Masalah belajar di masa pandemi ini memang sulit, apalagi di daerah yang dari segi teknologi masih ketinggalan jauh. 

Pada tulisan saya sebelumnya tentang guru harus tahu hybrid learning sudah berjanji untuk menjelaskan tentang bagaimana desain belajar hybrid learning itu.

Bagi bapak dan ibu guru yang berada di daerah kesulitan jaringan internet jangan kecewa yah, karena kali ini hanya membahas yang pakai internet dulu. Di lain waktu, akan dibahas berkaitan dengan desain belajar untuk bapak dan ibu guru yang berada di daerah tidak ada internet (jika saya ada kesempatan lagi untuk menulis. hehehe...)

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi bapak dan ibu guru sekalian.

Beberapa hal yang perlu bapak dan ibu guru ketahui sebelum menerapkan hybrid learnig.

1. Metode yang diterapkan dalam pembelajarannya dengan menggabungkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan pembelajaran tatap muka.

2. Bapak dan Ibu guru harus menyiapkan Learning Management System (LMS) (untuk LMS ini, akan kita bahas khusus pada tulisan berikutnya agar membantu bapak dan ibu guru yang belum memahami tentang LMS dan menggunakannya). 

LMS yang direkomendasikan bagi bapak dan ibu guru yaitu google class room.

3. Siapkan zoom atau google meet. (disesuaikan dengan kebiasaan bapak dan ibu guru saja atau bagi yang belum memahami berkaitan dengan zoom dan google meet ini, nanti kita bahas khusus juga).

4. Pembagian jadwal siswa belajar tatap muka sesuai aturan pemerintah dengan persentase jumlah siswa yang bisa mengikuti belajar tatap muka. 

Jika 50% siswa belajar tatap muka maka pembagian jadwalnya harus jelas. Jangan lupa protokol kesehatan juga, tentunya.

5. RPP, materi ajar, LKS dan media disiapkan juga sesuai dengan topik yang akan dipelajari siswa.

Itu tadi beberapa hal yang perlu diperhatikan bapak dan ibu guru sebelum melaksanakan hybrid learning.

Selanjutnya, pelaksanaan hybrid learning yang saya rekomendasikan.

1. Siswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka 50% sesuai aturan pemerintah. Berkaitan dengan ini, guru sudah buat jadwal sebelumnya dan diinformasikan kepada siswa dan orang tua.

2. Siswa yang lain mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) menggunakan video conferece dan LMS. Berkaitan dengan ini, alat dan media yang diperlukan yaitu Laptop/Handphone, kamera dan tripod (bagi guru), zoom meeting, dan google class room. 

Guru sebelumnya harus sudah mendesain LMS dengan mengisi materi berupa file dokumen atau video, lembar kerja siswa, dan tes (untuk pengaruran LMS, kita bahas nanti yah...).

3. Sebelum pembelajaran tatap muka di kelas berlangsung, guru mempersiapkan pembelajaran terlebih dahulu untuk siswa yang tatap muka dan siswa yang PJJ. 

Persiapan yang dilakukan guru yaitu dengan mengatur posisi kamera dan tripod pada tempat yang tepat dengan menghubungkannya pada laptop untuk video conference menggunakan zoom meeting/google meet. 

Lalu, menghubungkan laptop dengan LCD agar siswa yang berada di kelas bisa melihat temannya yang ikut kelas PJJ.

4. Setelah mempersiapkan berbagai hal pada poin 3 di atas, lalu guru mulai melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dirancang bapak dan ibu guru untuk pembelajaran tatap muka dan PJJ.

5. Bagi siswa yang mengikuti PJJ wajib menghidupkan kamera videonya agar terkesan mereka sedang mengikuti pembelajaran secara langsung.

6. Bapak dan ibu guru tetap mengontrol PJJ dan jangan hanya asik dengan siswa yang ikut kelas tatap muka saja. 

Jika guru memberikan pertanyaan untuk siswa maka harus ada perwakilan dari siswa yang PJJ juga untuk menjawab pertanyaan guru.

7. Bapak dan ibu guru wajib mengontrol pengerjaan LKS untuk siswa yang tatap muka dan PJJ dan tidak hanya fokus pada salah satunya saja.

Kira-kira itu singkat cerita mengenai pembelajaran hybrid learnig yang bisa saya ulas bagi bapak dan ibu. 

Jika ada kekurangan dalam tulisan ini maka saya sebagai penulis meminta maaf dan sangat terbuka untuk menerima masukan dari bapak dan ibu guru. 

Terima kasih dan semoga tulisan ini bisa sedikit membantu bapak dan ibu guru dalam mempersiapkan diri untuk membantu belajar siswa. (Red.pikiRindu)

Penulis adalah dosen di Unika Santu Paulus Ruteng

Favorit Pembaca




Copyright © pikiRindu. All rights reserved.
Privacy Policy | About | Kontak | Disclaimer | Redaksi