-->


Puisi Kritik Sosial: Jelang Masa Berlalu

Foto Ricardus Jundu (Sumber: Dokumen pribadi)

Kumpulan Puisi Kritik Sosial, Karya: Ricard Jundu


 Penguasa Keadilan

Waktu terus berlalu pergi

Duka menyelimuti malam

Berlanjut hingga pagi

Setiap detik terasa kelam

Dalam ketidakadilan

Dimanakah keadilan?

Hati luka

Bertumpuk duka

Tanpa keadilan

Jeritan suara kesedihan

Mencuat begitu deras

Terlepas dari mulut-mulut 

Tanpa kekuasaan

Sungguh terdengar jelas

Hukum pura-pura tuli

Tak peduli berkali-kali

Dimanakah keadilan?

Bagi kaum tanpa kekuasaan

Teriakan kebenaran

Hanyalah teori belaka

Untuk rakyat jelata

Bukan untuk orang bertahta

Baca Juga: Kumpulan Puisi Kritik Sosial || Ricard Jundu

Membeli Kesembuhan

Rakyat yang malang

Beban bagi kekuasaan

Hidupmu  selalu terbelakang

Sampai kapan demikian?


Mati pun meninggalkan beban

Uangmu tak cukup untuk kesembuhan

Deritamu selalu menjadi permasalahan

Dalam lingkaran kekuasaan


Cukup sudah kau berteriak

Merengek bagai bayi kelaparan

Kekuasaan tak sanggup lagi mengurusmu

Seharusnya kau sadari itu


Rakyat yang malang

Kau dilarang sakit

Sehat milik orang berharta gemilang

Kau harus sehat walau makan sedikit

Baca Juga: Perahu Kecil Wanitaku; Puisi Ricardus Jundu

Jalan Rakyat

Lagu simponi rindu

Dalam gelap tetap merdu

Dini hari, waktunya pelan berlalu

Ditemani angin dingin yang malu


Dini hari, gelap, dan dingin

Bus kayu melaju tanpa henti

Jalannya lambat dan pasti

Hanya jalannya yang tak pasti


Jalan rakyat memang begitu

Kadang baik

Kadang berlubang

Kadang tanpa polesan


Begitulah Jalan rakyat

Setiap hari dilintasi masyarakat

Tetap tersenyum walau hati tersayat

Terluka oleh janji manis yang kumat


Setiap lima tahun kembali menipu

Suaranya mengaum tanpa ragu

Selepasnya, lalu berlalu

Seiring jalan janji jadi kelabu


Begitulah nasib rakyat

Hidup melarat

Jalanannya pun sekarat

Menunggu Tuhan dalam berkat

Baca Juga: Senja di Pelataran Kota Gudek

Cahaya Pelita

Di bawah lereng bukit

Malam menampakkan kesunyian

Cahaya-cahaya redup berjejer rapi 

Temani bintang, hiasi gelapnya langit


Jangkrik menyanyikan lagu sendu

Begitu terus sampai malam berlalu

Bersama cahaya kunang-kunang

Berkedip seirama dalam rasa senang


Cahaya pelita

Jadi saksi janji manis pemulung suara

Cahaya pelita

Bersuara dalam redup tanpa arah


Terang hanyalah kerinduan

Dalam tidur malam pemimpi

Cahaya yang redup, tegak berdiri sendiri

Temani pemimpi yang lagi terlelap

(Red.pikiRindu)


Penulis merupakan orang yang suka jalan-jalan di pedalaman Flores - NTT. Penulis juga penyuka karya sastra dan seni, pegiat usaha mikro yang bergerak di ekonomi kreatif-bisnis digital dengan nama usahanya Flores Corner (naiqu, cemilan santuy, dan JND desain), serta pengajar di Unika Santu Paulus Ruteng. Hasil tulisan penulis sudah banyak dipublikasikan di berbagai media cetak dan online. 

Puisi - Puisi Kritik: Jelang Masa Berlalu (Bagian Pertama)

Foto Ricardus Jundu (sumber background: pixabay.com)

Kumpulan Puisi Kritik Sosial

Nama Tanpa Karya

Jangan sampai ragamu tak berguna

Hidupmu hanya nama tanpa karya

Bagaimana mungkin kamu begitu?

Kamu menjadi boneka penguasa

Kamu hanyalah alat belaka

Modal kerakusan yang berkuasa

Kapan saja bisa dibuang

Ditendang sampai melayang

Lalu jatuh ke jurang

Cerdaslah!


Kawasan Hutan Beton

Rimbanya hutan tak nampak lagi

Yang tersisa hanya rimba buatan

Empunya sang penguasa

Sungguh megah dan kokoh


Habislah anak cucuku

Rimbanya berlalu termakan waktu

Apa lagi yang harus diceritakan?

Hanya menambah luka hatinya


Tiang beton menjadi ramai 

Seakan hendak menangkap langit

Tapi, tak kunjung dapat

Lalu, terus berusaha lebih tinggi


Habislah anak cucuku

Hanya menikmati sejarah jejak masa lalu

Bahwa tanahnya pernah menjadi surga

Nirwana bagi makhluk bernyawa


Habislah anak cucuku

Habislah mereka semua

Masa depan cucuku menjadi layu

Dunianya bukan lagi nirwana


Manusia Robot

Rangkaian kata disusun rapih

Ribuan metode dalam teori

Regulasi dibalut kepentingan

Aku diciptakan bagai robot


Aku punya otak untuk bernalar

Aku juga punya hati untuk bersikap

Jangan kau jadikan aku mesin

Aku, kau atur dengan regulasi berbelit-belit


Di sini, aku duduk di bangku usang

Hanya bisa menulis di atas secarik kertas

Lalu, dipaksa untuk belajar dengan riang

Dituntut  menjadi cerdas dengan fasilitas terbatas


Aku bukan robot

Aku manusia berbobot

Poles saja aku agar bisa mengenal diri

Bantu saja aku agar menjadi diri sendiri


Lalu, biarkan aku berdiri di atas kakiku sendiri

Belajar Mandiri

Membangun diri agar bisa berdikari

Berkarya bagi negeri


Sang Penipu

Wahai penipu berbaju rapih

Kau datang lagi, bercanda manis

Rayumu jadi rasa yang pedis

Kami masih punya akal yang bersih


Lima tahun sudah berlalu

Kemana saja kau pergi

Saat itu, di sini menjadi sepi

Sunyi, dalam hidup yang kelabu


Lihatlah sekarang wahai penipu

Lihatlah semua wajah kusam penuh lesu

Tak ada yang bahagia seperti dulu

Sama seperti pertama kali kau datang waktu itu


Semua tertipu janji manismu

Sehingga kini tersisa namamu yang busuk

Bau dan basi walau kau berdasi

Enyah saja kau yang tak tahu berterima kasih



Sebungkus Nasi

Di sudut kota

Di bawah rimbunnya jembatan layang

Deretan lelaki dan wanita diam tanpa kata

Pikiran mereka melayang


Sampai waktu terus berlalu hingga sore

Tampak gemerlapnya cahaya kota

Ada tangis kecil di balik gardus yang diterangi pelita

Itu tentunya bukanlah kumpulan sampah

Itu adalah seorang anak yang lupa kapan terakhir kali dia makan


Nasinya dicuri kucing liar yang nekat

Hanya air mata dan suara tangis yang keluar dari mulut kecilnya

Satu pun remah tak ada, semuanya dibawah pergi

Untungnya mereka sudah terbiasa tanpa nasi


Terdengar rayuan lembut sang ibu

Gadis kecilku yang manis, bertahanlah

Esok ada bantuan nasi bungkus dari penguasa

Sebentar lagi mereka datang mengemis suara kita


Gadis kecil itu perlahan mulai diam

Termakan rayuan ibu berwajah lesu

Harapan besarnya hanyalah mimpi sebungkus nasi

Akhirnya,  malam itu terasa paling lama waktunya dari kebanyakan malam lainnya


Ruteng, September - Oktober 2022

Ricardus Jundu

Penulis merupakan orang yang suka karya sastra dan seni, pegiat usaha mikro yang bergerak di ekonomi kreatif-bisnis digital dengan nama usahanya Flores Corner (naiqu, cemilan santuy, dan JND desain), serta pengajar di Unika Santu Paulus Ruteng. Hasil tulisan penulis sudah banyak dipublikasikan di berbagai media cetak dan online. 

@Red.pikiRindu

Perahu Kecil Wanitaku; Puisi Ricardus Jundu

Sumber foto: naiqu collection

Lautan lepas menjadi tantangan

Ombak pun berdatangan

Menerpa perahu kecil kecoklatan

Sampai dayung seakan tak mampu menahan


Riak suara angin terus menggempur rasa sang wanita

Karyanya itu dipandang sebelah mata

Katanya, itu tak berguna hanya menambah lelah raganya

Waktunya terbuang, lalu menyulut raganya yang tak berdaya


Katanya lagi, perahu kecil wanita itu tak akan sanggup berlabuh

Dia hanyalah wanita penuh dengan lesu

Wanita tak berguna yang terus bertahan di atas perahu

Bertarung dan terus berjuang sampai sulit melaju


Keringatnya terus menetes membasahi kulit kusam

Lautan lepas terus menabrak perahu kecilnya tanpa bosan

Hidupnya terasa kejam

Tapi harus tetap bertahan walau tanpa kepastian


Harapan selalu ada

Dalam jiwa yang percaya

Bahwa hidup bukan tentang hasilnya saja

Juga tentang proses dalam karya


Sampai nanti, di sini

Lukisan tinta emas menanti

Menunggu proses itu usai

Dalam sejuta prestasi.


Ruteng, Mei 2022

Karya: Ricardus Jundu


@red.pikiRindu

Puisi Manggarai: Benca Le Momang Tanade Oleh Yohanes Don Bosco Gajeng

Foto: Yohanes Don Bosco Gajeng

Benca le momang tanade, kuni agu kalo ge

Pola lite neka gomal, kapu lite neka pa'u

Porong ita le di'a lewelen depasenan tana ge

Reje lele, kope oles tite one tanah Congkasae

Mait ga nai ca anggit agu tuka ca leleng


Benca le momang tanade, natas bate labar ge

Porong neka gege tite tendang le

Porong neka gagu tite tendang laun

Adir naid tite kamping Mori Jari

Toto molor tite kamping Mori Wowo


Benca le momang tanade, uma bate duat ge

Ite lawad tana, neka manga woleng bantang

Ite ase ka'e neka paengs woleng tae

Porong uwa haeng wulang, langkas haeng ntala tanade

Batirs ata balid, behas cengkang, congko ronggo do'ong


Benca le momang tanade, wae bate teku

Porong kembus nuhu wae teku, nahengn gejur

Agu mboas nuhu wae woang, carn sangged pala

Ase ka'e mait ga, selek kope agu pola bancik

Pande nera beang, jari dengkir tain Manggarai


Ruteng, 13 Januari 2022

Yohanes Don Bosco Gajeng


Editor: Ricard Jundu

Puisi: Apa Yang Mereka Cari? || Septiani Melita Namung

 

Foto penulis (background bersumber dari pixabay.com)

Apa Yang Mereka Cari?

Oleh: Septiani Melita Namung

Pelajar SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng


Semua orang sibuk pergi,mencari jati diri

Menuntut tuk meraih takdir yang berarti

Menolak segala bentuk kesusahan hati

Yang membuat hidupnya serasa terkutuk mati

Aku terkadang bingung dengan kegundahan hati banyak orang

Mengeluh tentang kebahagiaan yang tak kunjung datang

Tetapi mereka  tak pernah menyadari

Bahwa kebahagiaan tak perlu dicari

Kebahagiaan akan datang sendiri tanpa dinanti setengah mati

Apa yang mereka cari?

Tentu saja bukan kebahagiaan melainkan kenikmatan duniawi!


Penulis: masuk nominasi 10 kontestan terbaik dalam Kontes Cipta Puisi (KCP) 2022

Puisi: Jangan Cinta Aku Apa Adanya, Reinaldus K. Mogu

Foto penulis (Background bersumber dari pixabay.com)

Jangan Cinta Aku Apa Adanya

Oleh: Reinaldus K. Mogu
Seminari Scalabrinian Ruteng


Jangan cinta aku apa adanya, kekasihku

Manakala kau masih berada dalam duniamu

dan aku di duniaku


Jangan cinta aku apa adanya, kekasihku

Manakala dunia yang kau bawa padaku 

adalah duniamu


Jangan cinta aku apa adanya, kekasihku

Bukankah duniamu

segalanya membutuhkan apa-apa


Jadi jangan cinta aku apa adanya, kekasihku

Sebab aku tak punya apa-apa

selain dunia kecilku


Itu cukup untuk kita, kekasihku

Seandainya kau ingin mencintai aku apa adanya, 

Tapi tidak untuk pernak-pernik kecantikan yang ada di duniamu.


Juni, 2022


Penulis: masuk nominasi 10 kontestan terbaik dalam Kontes Cipta Puisi (KCP) 2022

Puisi: Harap Dibalik Senja || Melania Secondina Kumur nakur

Foto penulis (Background bersumber daro pixabay.com)

Harap dibalik senja

Oleh: Melania Secondina Kumur nakur
Universitas Nusa Cendana Kupang


Senjaku telah pergi sejam yang lalu

Meninggalkan aku dengan kesunyian malam

Tak ada cuitan perpisahan

Atau pun genggaman hangat darinya


Senjaku telah menghilang

Benar-benar menghilang dari pandangku

Ragaku terjebak dalam kebingungan 

Mewarisi risau yang tak berujung 


Kutatap angkasa gulita itu

Menaruh harap sebesar mungkin

Untuk angan yang tak bisa berkata

Mengusik rasa dan pikir


Aku masih di sini

Masih merangkai cerita tentang aku dan juga senja

Sembari menanti kedatanganya

Bersama sisa harap yang mulai redup


Penulis: masuk nominasi 10 kontestan terbaik dalam Kontes Cipta Puisi (KCP) 2022


Puisi: Jendela Kalbu || Virgilius Bril Gratiano Parus

 
Foto penulis (Background bersumber dari pixabay.com)

Jendela Kalbu    

Oleh: Virgilius Bril Gratiano Parus
Seminari Pius XII Kisol


Bunyi jantung tak menggubrik hening jati diri

Kata hati berbisik penuh arti dalam iring diri yang tak kunjung memilih.

"Dia bisa dipercaya"ujar nadi penghantar pesan dari hati

Namun, di atas sana mata seakan punya firasat sendiri.

Mata tak mau mudah percaya hati.

Namun, pada saat mentari hampir bersembunyi, 

Mata akhirnya sadar diri dan percaya kata hati.

Semua tak tahu akibatnya.

Hari dilewati seperti nasi yang lancar meliuk masuk mengetuk lambung.

Semuanya berjalan lancar.

Sampai....

Yang tersembunyi mulai muncul

Yang tidur gegap terjaga

Yang diam jadi marah meronta - ronta.

Munafik.

Mata menyesal percaya hati 

Hati hanya bisa menangis setelah seluruh kisah usang yang ditampungnya jadi undangan cantik tuk hadirnya sebuah mata air.


Penulis: masuk nominasi 10 kontestan terbaik dalam Kontes Cipta Puisi (KCP) 2022

Puisi: Kita || Aldarjo Hendratus Neho

 

Foto: penulis (background bersumber dari: pixabay.com)

Kita

Oleh: Aldarjo Hendratus Neho

Seminari Pius XII Kisol


Sejujurnya, kita ini para pembohong

Sewajarnya, kita ini orang gila

Sebaiknya,kita ini orang jahat

Secukupnya, kita ini orang yang berkekurangan

Sedekatnya, kita ini orang jauh

Sesehatnya, kita ini orang sakit

Setulusnya,kita ini para pengkhianat

Sehebatnya, kita ini orang lemah

Sekayanya, kita ini orang miskin

Lalu apa yang kita cari? 

Mungkin kita sedang mencari bahagia yang  masih terselip diantara tangis dan pilu

Atau mencari tawa yang masih tenggelam di air mata. 

Jangan mengeluh, karena itulah kita. 

Bukan hanya kamu tapi juga aku

Bukan hanya mereka tapi juga kami. 


Penulis: masuk nominasi 10 kontestan terbaik dalam Kontes Cipta Puisi (KCP) 2022

Puisi: Hujan Diawal Juni || Maria Serlina Vemi

Foto penulis (Background bersumber dari pixabay.com)

Hujan Diawal Juni

Oleh: Maria Serlina Vemi
Unika Santu Paulus Ruteng


Sore ini rintik kecil itu kembali menyapa

Mengguyur tanah yang perlahan mulai gersang

Membasahi ranting-ranting  dan dedaunan yang mulai mengering

Menghapus jejak-jejak kaki sang anak yang tadinya berlari

Lalu menghantarkan rindu yang kian lama mengiring.

Padahal empat hari lalu, Mei baru saja usai.


Awan yang menampung sejuta kenangan menyebar

Menghiasi rintik-rintik hujan jatuh semakin menderas

Hawa dingin semakin terasa seketika

Hinggap kala angin menerpa.

Sejuknya senja di ujung barat kota Ruteng tak lagi terasa

Lagi-lagi hati ini remuk dan runtuh, dikalahkan oleh rindu dan kenangan.


Di jendela kamar tempat ku berteduh

Sendiri ku nikmati tetesan hujan, menahan rindu yang semakin menggebu.

Perlahan kuhapus percikan hujan yang menempel di kaca jendela

Sambil bertanya pada jemari tangan

Apakah hujan awal Juni ini adalah rindu yang menguap?


Terlalu lama merengkuh jarak dan rindu

Tak terasa kalori dalam diri mengikis tertelan pedih

Rindu yang telah lama bercengkrama dengan diam

Akhirnya, kembali menjadi bongkahan beku yang tidak dicairkan oleh apapun.

Seharusnya aku tak bangun di saat hujan deras sore ini

Agar tak ada rindu yang menggebu di setiap butir beningnya.


Oh hujan, bolehkah aku meminta?

Lewat butiran beningmu, titipkan rinduku padanya.


Ruteng, 05 juni 2022

Penulis: masuk nominasi 10 kontestan dalam Kontes Cipta Puisi (KCP) 2022

Puisi: Bertahan Untuk Sebuah Harapan || Priska Wulandari Perdana Ruslan

Foto penulis (Background bersumber dari pixabay.com)

Bertahan Untuk Sebuah Harapan 

Oleh: Priska Wulandari Perdana Ruslan
Unika Santu Paulus Ruteng 

Pelita menerangi sang kegelapan 

Rasa tak ingin padam lagi

Indahkan bagaikan kerlipan bintang 

Sinarkan cahaya di redupnya malam 

Kelipannya seolah memberi kepastian

Akankah sampai pada titik temu

Waktu terus berdenting 

Untaian doa selalu mengiringi

Langkah ini semakin jauh

Ada rasa ingin kembali

Namun, tatapan penuh harapan 

Dentangkan semangat untuk bertahan

Abaikan lelah yang bergemuruh 

Retakkan gundah yang menggelora

Inilah perjuangan untuk mereka 

Perjuangan untuk sebuah senyuman 

Entah sebesar apa rasa bosan itu

Risaukan hati yang telah bertekad 

Di sini akan selalu terpatri

Alasan dari sebuah langkah awal

Niatkan hati untuk melanjutkan 

Ajarkan lelah dengan kesabaran 

Raih mimpi dengan berjuang 

Usaikan bimbang dengan berdoa

Selami proses yang mendewasakan 

Lambungkan sabar untuk bertahan 

Aku yakin mimpi itu akan kucapai 

Niatku akan berbuah manis


Penulis: masuk nominasi 10 kontestan terbaik dalam Kontes Cipta Puisi (KCP) 2022


Puisi: Pelangi Hitam || Anisetus Hugo Adika Putra

Foto penulis (Background bersumber dari pixabay.com)

Pelangi Hitam

Oleh: Anisetus Hugo Adika Putra
SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng


Kelebat hitam datang padaku

Membelengguku dalam kebisuan.

Cahayaku hilang dalam kesunyian

Tak ada makhluk pelampiasan


Inikah takdir sang Esa

Takdir kelam menyiksa rasa

Pelangi hidupku telah pergi

Pelangi hitam muncul penuh tragedi


Bisaku hanya diam

Entah kapan aku bergumam

Belati tajam, menikam diam

Hidup aku dalam senyap

Menunggu aku lenyap.


Penulis: masuk nominasi 10 kontestan terbaik dalam Kontes Cipta Puisi (KCP) 2022


Puisi: Untuk Kau Yang Selalu Ku Nanti || Maria Noviana Nestaria Karmel

Foto penulis (Background bersumber dari pixabay.com)

Untukmu Yang Selalu Ku Nanti

Oleh: Maria Noviana Nestaria Karmel
Unika Santu Paulus Ruteng


Kala itu setelah sepasang baju putih abu kau tanggalkan

Aku mendengar kabar bahwa kau akan pergi

Kau bilang kau takkan meninggalkan 

Lantas apa ini?


Demi masa depan kita katamu

Dengan berat hati kurelakan

Kau pergi dengan sekucup harapanmu 

Dan aku dengan setulus penantian


Pagi yang selalu dihantam keheningan

Kuambil handphone berharap kau bertanya kabarku

Benar saja

Satu ucapan selamat pagi untukku

Dengan emoji kiss yang kuterima setiap pagiku


Penulis: masuk nominasi 10 kotestan dalam Kontes Cipta Puisi (KCP) 2022                                                                 


Puisi: Antara Hayal dan Nyata || Oktavianus Surijo Ranggi

 
Foto penulis (Background bersumber dari pixabay.com)
Antara Hayal dan Nyata

Oleh: Oktavianus Surijo Ranggi
Universitas Nusa Cendana Kupang


Pada sebilah rasa yang masih tersisa

Gelora angan kembali menyegarkan jiwa yang sudah terlelap

Merayu raga yang sudah mengucilkan diri untuk mulai unjuk gigi

Zona nyaman sudah terlalu lama menyekap jiwa dan raga ini


Namun, rupanya jiwa masih renta pada realita

Terlalu bocah untuk terjun dalam nyata

Raga yang masih terlalu lemah memikul beban realita yang sesungguhnya

Melihat dunia yang berbeda arah dengan hayalannya


Badannya yang masih berdiri di balik bilik mengumam, haruskah aku keluar zona ini?

Sementara hayalku terlalu asik untuk aku nikmati,

Haruskah aku tersadar sementara mimpiku terlalu fantastis untuk dilalui

Hidupku dalam mimpi dan nabisku dalam terlalu asik


Biarpun akhirnya aku tetap ditampar realita

Ditimpa kenyataan

Namun setidaknya hayalanku masih terlalu asik

Dengan jiwa yang masih perpetualangan dan raga yang masih nyaman dengan rebahan.


Penulis: masuk nominasi 10 kontestan terbaik dalam Kontes Cipta Puisi (KCP) 2022

Rayuan Senja, Puisi Ricard Jundu

Foto: dokumen pribadi Ricard Jundu


Karena auramu, aku bahagia


Gadisku manis

Auramu harum semerbak

Laksana mawar di tepian hati

Elok memikat rasa sang jiwa


Menjelang malam, langit berwarna jingga, 

di sana

Di sudut kota, ku berdiri menatap bintang, 

bercahaya terang


Seribu rasa membalut luka ini

auramu jadi penawar sedih

Di kala hati ini perih

Kau hadir dalam jiwa yang tersakiti


Semuanya luruh tak berasa

Kau sungguh aura sang jiwa

Dalam kelam dan bahagiaku

Sungguh kau aura sejatiku


Aku bahagia

Ruteng, Mei 2022

Ricard Jundu

Penulis merupakan orang yang suka jalan-jalan di pedalaman Flores - NTT. Penulis juga penyuka karya sastra dan seni, pegiat usaha mikro yang bergerak di ekonomi kreatif-bisnis digital dengan nama usahanya Flores Corner (naiqu, cemilan santuy, dan JND desain), serta pengajar di Unika Santu Paulus Ruteng. Hasil tulisan penulis sudah banyak dipublikasikan di berbagai media cetak dan online. 

No One Knows, Puisi Oleh Fransiskus Jemadi

Gambar Fransiskus Jemadi (Foto: Aldo Marung)

No one knows when it remains a mistery


When you go stray

Know that I am not okay

When life gets tougher

Lean on my shoulder 


You become the spotlight

Never loose your right

Be a woman of fight 

Shine through the dark of night 


Keep up the promise 

To make you alive

Keep up the faith 

To make you safe 

That's all I ask from you 


Be part or apart

None of us knows what

Life lays ahead of us

One thing for sure 

We will depart to where we came 

No one knows when 

It remains a mistery


Fransiskus Jemadi

Dosen Unika Santu Paulus Ruteng


Kumpulan Puisi Tentang Hak

Aturan yang berpihak
Ilustrasi tentang aturan (sumber: pixabay.com)

Pikiranku Bukan Milikmu

Ragaku boleh kau miliki

Keringatku juga boleh kau serapi

Tapi tidak dengan pikiranku

Pikiranku milikku

Seutuhnya punyaku

Tanpa batas

Di situ aku melahirkan ide cerdas

Di mana aku merasa bebas

Pikiranku milikku

Hak patenku

Sampai raga berabu

Masih tetap milikku


Kembali Ke Belakang

Catat kataku

Kisah hidup selalu bergerak maju

Pikirlah jauh ke depan

Semampumu

Bukan malah kembali ke belakang

Terus ke belakang, melangkah mundur

Malah menjauh dari tujuan


Gerakku Jangan Dipagari

Boleh saja langkahku terpantau

Itu baik, agar aku tak keluar jalur

Tapi jangan pagari jalanku

Nanti langkahku lamban

Bisa saja aku bergerak di tempat

Atau terpaksa mundur lagi

Mengulang dari masa lalu

Dunia semakin maju

Jangan buat langkahku terhimpit dan sempit

Aku bisa tertinggal jauh dari masa depan

Akhirnya kalah dan mati berpikir


Kewajibanku milikmu, Hakku milikku

Tuntutanmu selalu terpenuhi

Bahkan, jauh sebelum kau memintanya

Tapi sedikit berbeda dengan hakku

Tak selalu sama dengan pintaku

Kewajibanku milikmu

Hakku milikku

Seharusnya berjalan searah

tanpa iming apa pun

Jangan kau ambil separuh hakku

Karena itu milikku

Kewajiban sudah ku penuhi

haruslah hak mengikuti

Biarkan keadilan menjadi saksi

Kau dan aku terberkati


Ruteng, Februari 2022

Ricard Jundu

Penulis adalah penyuka karya sastra dan seni yang sudah menulis di berbagai media cetak dan online.

KATA HATI


Sumber Foto: Merdeka.com


Disini tentang hati yang menderu

Susah tidur yang mendera tubuh begitu lama

Habis dengan memikirkan kata demi kata

Alunan musik klasik coba menuntun pada mimpi yang sama

Tetap saja tegar walau tertusuk jarum yang rapih tertata

Ah...bukan merana tanpa alasan

Hanya saja Pikiran menghimpit rasa dalam lamunan

Semuanya hadir bagai cerita dalam kiasan

Datang dan pergi kembali dalam roda perputaran

Jika senyuman manis selalu hadir mengisi ruang

Ketahuilah, Bukan berarti ruang itu sedang tenang

Ada kerutan yang sulit ditangkap dari sang pemilik ruang

Dan Topeng itu mampu  mengelabui  pandangan  orang

Terkadang kerutan itu akan tampak di kala tak mampu menahan beban lagi

Tapi keringat yg bercucuran membuat tangan mampu menghapus jejak dengan gigih

Sepintas terdiam untuk coba menahan amarah yang hendak terbagi

Rupanya senyuman hati  mengobati luka kerutan dalam terbatasnya ideologi

Hei...masih tegarkah anda?

Jawaban masih tegar akan  terdengar diselingi bunyian keras yang berasal dari  tepukan dada

Ah itukan sama saja menyakiti diri anda

Jika menepuk dada dengan kuat adalah jati diri anda

Tegarkanlah hati dan pikiran dengan pasti

Salutlah diri yang mampu mengelola emosi

Itu bukan sekedar syair penghibur lara dalam hati

Tetapi narasi sebuah cerita indah dengan titisan kata hati


Ricard Jundu 

Penulis adalah penyuka karya sastra dan seni yang sudah menulis di berbagai media cetak dan online



Rindu Terdalam || Ricard Jundu

Ricard dan yati
Ilustrasi: Dokumen Pribadi
Tiap hari aku mendapatkan kata rindu, bahkan begitu sering, dan selalu inginkannya. 
Mungkin yang lain pasti bosan dengan setiap kata rindu menggebu, tapi aku tidak. 

Yang lain heran, aku tidak. Yang lain jenuh, aku tidak. Aku selalu haus dengan kata rindu.


Rindumu tentang aku yang dikagumi.

Rindumu tentang aku yang disayangi.

Rindumu tentang aku yang diakui.

Rindumu tentang aku yang di mimpi.

Itu rindu? Ya, semua tentang rindumu adalah tentang aku. Bahagialah aku yang menjadi arti kerinduanmu.

Ternyata gandengan tanganku, senyumku, tawaku, suaraku, itulah alasan rindumu.

Larutlah lebih dalam, lebih jauh lagi hingga rindumu tak bisa terbendung lagi agar tawa yang ku dengar nanti adalah bahagiamu. 

Bawalah rindu itu selalu dalam untaian nada doa yang selalu kau dendangkan sebelum bermimpi.

Biarkanlah rindumu menjadi tak terhingga.


Ricard jundu

Penyuka karya sastra dan telah menulis berbagai puisi, ilmiah populer, dan karya ilmiah di berbagai media cetak dan online.


Senandung Akhir Tahun // Ricard Jundu

Bulan dan matahari
Ilustrasi: dokumen pribadi

Selalu tak sama setiap tahunnya
Penuh kisah dengan cerita berbeda
Hanya satu yang selalu sama, cinta
Cinta yang sama selamanya
Cinta lewat kasih pemberi warna
Kasih yang menjadikan hidup lebih berasa
Rasa dengan cara yang tak sama
Sekedar menulis kisah getaran jiwa
Bernuansa roman, walau sederhana
Bukan sekedar harta dan mewah
Rayakan hidup  agar bertuah

Setahun berlalu bagai drama
Dengan cerita tak bernaskah
Hanya kenangan saja yang tersisa
Raga menjadi tua bukan masalah
Karena tua sebuah kepastian yang nyata
Di sini, tentang merangkai hidup berbuah makna

Setahun sudah, bukan waktu singkat, ya
Polesan ceritanya selalu ada suka 
Diselingi duka agar selalu berserah
Jadi kenangan dalam goresan dinamika
Goresan yang menjadi cerita anak cucu, nantinya

Setahun sudah, langkah tertata
Buanglah kisah suram membara
Agar tak membakar cerita baru esoknya
Juga, tanpa lupa berserah dalam pujian doa
Layaknya musafir tak lupa arah
Lembaran baru segera dibuka
Dengan mimpi - mimpi  baru yang lebih bahagia
Tulislah dalam diari agar ingatan tak kalah
Demi waktu yang kembali datang, walau sekedar bernostalgia

Penulis adalah penyuka karya sastra dan seni yang sudah mengahasilkan tulisan populer dan ilmiah di berbagai media cetak dan online.


Favorit Pembaca




Copyright © pikiRindu. All rights reserved.
Privacy Policy | About | Kontak | Disclaimer | Redaksi