-->


Nilai Yang Pudar Dari Kota Kecil Ruteng

Mbaru Wunut
Foto: Ruteng tempo dulu, sumber Harrison Forman Collection (colection.lib.uwm.edu)

Melawan Lupa

Kebiasaan hidup yang baru bisa melenyapkan cara hidup lama masyarakatnya.

Pikiran.pikiRindu- Masa lalu adalah kehidupan yang selalu dirindukan saat ini dan kemudian hari. Banyak hal yang membuat masa lalu menjadi layak dirindukan untuk dikenang. Bisa saja peristiwa gembira dan bisa juga peristiwa sedih.

Kisah masa lalu bisa saja terulang kembali dan tentunya dengan kondisi yang berbeda. Selain kisah hidup, ada juga yang patut diingat yaitu nilai kehidupan masa lalu yang lebih berarti apabila dibandingkan dengan masa kini (menurut penulis dan mungkin juga anda yang lagi membaca tulisan ini).

Kota kecil Ruteng dulu (sesuai masa penulis di sekitar tahun 1990an) dan sekarang (sesuai masa penulis di tahun 2022) sudah terlihat berbeda. Banyak hal yang telah berubah dari waktu ke waktu. Perubahan itu tentunya mempengaruhi pola dan cara hidup masyarakatnya. 

Coba kita kembali ke masa lalu dari kota kecil Ruteng, banyak hal yang baik yang patut dikenang. Misalnya, banyak yang bersenda gurau di tempat tertentu untuk saling berbagi cerita, kisah, atau pengalaman yang membuat hadirnya tawa.

Biasanya, hal itu terjadi di depan rumah, sambil menikmati kopi sore ditemani ubi rebus atau jagung rebus. Ketika ada yang lewat di jalan, lalu disapa dan diajak untuk bergabung menikmati kopi dan ubi rebus itu. Kelihatan sekali keakraban yang membentuk ikatan emosional, walau tidak memiliki hubungan darah.

Sore hari menjadi waktu yang tepat untuk bersenda gurau bersama karena itu menjadi waktu di mana setiap orang sudah pulang dari aktifitas rutinya seperti kerja dan sekolah. Ruteng sebagai kota yang dingin seakan mendukung masyarakatnya untuk bersenda gurau sore hari sambil menikmati kopi dan ubi rebus.

Tak lupa juga, kebiasaan lain masyarakat kotanya ketika pulang libur dari kampung masing-masing yaitu berbagi oleh-oleh. Sekedar membagikan satu atau dua bagian seperti ubi, gula merah, jagung, buah-buahan dan lain sebagainya tapi rasanya menggembirakan saat mendapatkannya. 

Masyarakat kotanya tak sungkan untuk saling berbagi rasa dalam suka dan duka. Ada kebiasaan lejong (berkunjung) ke rumah tetangga sehingga suka  dan duka tetangga bisa dirasakan bersama.

Oh iya, kebiasaan lejong membuat ikatan emosional terjalin dengan baik. Dampaknya, masyarakatnya tak sungkan untuk memohon bantuan apabila ada kekurangan di rumahnya kepada tetangga. Saling membantu di antara masyarakatnya menjadi budaya yang melekat dalam cara hidup masyarakat.

Misalnya, ketika di rumah kekurangan gula, garam, beras, dan lain sebagainya masyarakatnya tidak sungkan untuk lejong dan meminta sedikit ke tetangga untuk menutupi kekurangan itu, begitu pula sebaliknya. Kebiasaan itu ada bukan karena ada hubungan keluarga tetapi lahir dari ikatan emosional yang kuat masyarakatnya.

Bukan keluarga tetapi rasanya seperti keluarga. Luar biasa sekali kehidupan itu dulu. Saling berkunjung, bercanda, minum kopi, dan makan ubi rebus bersama menjadi dasar terbentuknya ikatan emosional itu.

Apakah sekarang masih sama seperti dulu di kota Ruteng ini?

Mungkin sebagian masih ada. Tetapi yang dirasakan penulis yaitu ada yang berbeda. Sama sekali mulai berkurang kebiasaan lejong, bercanda, tertawa, minum kopi dan makan ubi rebus bersama. Apalagi kebiasaan saling membantu, nampak sekali terasa pudar.

Masyarakat kotanya sudah mulai dengan cara dan kebiasaan hidup yang baru seiring berkembangnya jaman. Kebiasaan masa lalu yang diceritakan di awal tulisan ini hanya menjadi kenangan indah bagi generasi masyarakat yang pernah merasakan masa itu.

Bagaimana kebiasaan masyarakat kota Ruteng sekarang?

Kebiasaan yang kini terjadi adalah budaya lejong yang sudah berkurang. Jangankan lejong, saling tegur sapa di antara tetangga saja mungkin sudah mulai berkurang. 

Masyarakatnya sudah asik dengan kehidupannya masing-masing. Hampir tak peduli lagi dengan sesama. Cerita saling membantu seperti meminta sedikit garam, beras, gula untuk mengisi kekurangan sesaat di rumah saja hampir tak ada lagi.

Dampaknya ikatan emosional juga semakin tidak nampak. Tetangga yah tetangga. Keluarga yah keluarga. Tak ada lagi tetangga rasa keluarga. Sebenarnya sangat rindu untuk kembali ke masa lalu itu karena suasananya sungguh membahagiakan.

Anak jaman sekarang mana tahu rasanya seperti dulu itu. Bahkan mereka juga mungkin tak percaya dengan cerita itu karena bagi mereka mungkin itu adalah hal yang mustahil.

Oleh karena itu, penulis sengaja menuliskan kisah dulu dan sekarang ini, di sini, supaya anak cucu nantinya punya referensi bahwa kehidupan di masa lalu ternyata ada cara hidup yang berbeda dengan jaman mereka. Itupun kalau anak cucu nantinya menemukan tulisan ini di sampah google.

Mengapa terjadi perubahan cara hidup masyarakat?

Pertama, perkembangan teknologi. Perkembangan jaman membuat masyarakat terpaksa merubah pola kebiasaannya. Sebagai contoh, saat berkumpul bersama keluarga hampir semuanya memegang smartphone dan sibuk dengan kesenangannya masing-masing. Yah, namanya saja kumpul keluarga pada jaman sekarang.

Smartphone sebagai wujud dari kemajuan teknologi ternyata secara radikal mengubah pola hidup masyarakat. Lalu, menjadi kebiasaan baru masyarakatnya. Boleh dibilang, kemajuan teknologi bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Kedua, tuntutan pekerjaan. Tuntutan pekerjaan terkadang membuat masyarakatnya sibuk bekerja mencari nafkah bagi keluarganya. Tapi, terkadang berdampak pada kebiasaan baru yang lain yaitu anak bertumbuh sendiri tanpa pengawasan orang tua secara langsung. Untuk anak saja seperti itu, apalagi tetangga atau orang lain, pasti lebih tak peduli lagi.

Alasan di atas merupakan hasil renungan dan refleksi penulis saat kembali mengingat masa lalunya dan membandingkan dengan masa sekarang. Mungkin masa depan berbeda lagi ceritanya. Entahlah.

Sekarang, kembali ke cara hidup seperti masa lalu itu menjadi sesuatu yang dirindukan. Bahkan tak jarang ada teman-teman yang kalau lagi kumpul bersama, biasanya membuat persyaratan untuk tidak memegang smartphone saat berkumpul bersama. Suasana yang dirasakan sangatlah berbeda dan hubungan antar sesama secara nyata lebih terasa.

Cara hidup masa lalu yang diceritakan penulis penting untuk menjadi refleksi masyarakat kini dan nanti. Cerita ini akan menjadi rujukan bahwa jauh di masa lalu pernah ada kebiasaan hidup yang berbeda dengan masa kini.

Semoga kita lebih peduli dengan keluarga, sahabat, dan sesama agar cerita masa lalu ini tidak berhenti sampai di sini tetapi terus berlanjut sampai ke masa depan.

Ricard Jundu

Penulis adalah penyuka karya sastra dan seni yang telah menulis di berbagai media cetak dan online. Penulis juga aktif menulis karya ilmiah di berbagai jurnal cetak dan online.




Related Posts

Favorit Pembaca




Copyright © pikiRindu. All rights reserved.
Privacy Policy | About | Kontak | Disclaimer | Redaksi